Terbit : 19 Agustus, 2019 - Jam : 15:15

Putri Bengkulu Sang Perajut Merah-Putih; Role Model Perempuan Indonesia

Loading...

Merdeka !!! 74 tahun yang lalu bangsa yang besar bangsa Indonesia merdeka. Pun tidak lepas dari tradisi masyarakat Indonesia menjelang 17 Agustus maka akan banyak masyarakat memasang bendera merah putih di depan rumah, ini intruksi dari pemerintah.  Bendera yang kita pasang dan menjadi salah satu simbol dari negara Indonesia. Hal ini yang kemudian mengingatkan kita akan seorang perempuan asal Bengkulu sebagai perajut sang merah putih.

Fatmawati Soekarno. Yah, Fatmawati Sukarno adalah sosok yang tidak asing didalam kacamata masyarakat Indonesia khususnya di daerah Bengkulu. Fatwamati Sukarno yang memiliki nama asli Fatimah lahir pada 5 February 1923 di Bengkulu menjalani masa kanak-kanak hingga pemuda di Bengkulu. Fatmawati yang didaulat sebagai perintis kemerdekaan dan Pahlawan Nasional berdasarkan dengan SK. Presiden RI No. 118/TK/2000,tanggal 4 November 2000, karena memiliki andil yang besar dalam proses perjalanan panjang menuju kemerdekaan Republik Indonesia. Mungkin banyak dari kita berasumsi bahwa Fatmawati hanyalah perempuan yang menjahit sang saka merah putih sehingga hanya sedikit keistimewaanya dan siapapun sebenarnya bisa jikalau hanya sekedar menjahit Bendera tersebut.

Namun hingga saat ini belum ada klaim maupun rujukan yang menujukkan bahwa ada orang yang telah memiliki gagasan akan hadirnya sebuah bendera bagi sebuah kemerdekaan bangsa, kecuali Fatmawati sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa Fatmawati bukan hanya sekedar penjahit bendera semata melainkan pengagas akan hadirnya bendera itu sendiri, bahwa kemudian gagasan ini pun sudah lama dipikirkan dan disiapkan oleh Fatmawati semenjak satu setengah tahun sebelum kemerdekaan. Ini ditunjukkan dalam pernyataan Fatwamati dalam tulisannya yang berjudul : Catatan Kecil Bersama Bung Karno

“ Ketika akan melangkahkah kakiku keluar dari pintu terdengarlah teriakan bahwa bendera belum ada, kemudian aku berbalik mengambil bendera yang aku buat takkala Guntur masih dalam kandungan, satu setengah tahun yang lalu. Bendera itu aku berikan pada salah satu seorang yang hadir di tempat di depan kamar tidurku. “

Tentu selain sang perajut merah putih, banyak gelar yang dapat disematkan kepada Fatmawati Sukarno bahkan menjadi sangat relevan kemudian ketika Fatmawati menjadi salah satu role model untuk para  perempuan Indonesia dimasa sekarang ini. hal ini karena banyak yang bisa diteladani dan diteruskan melalui sikap dan kepribadian yang dimiliki oleh ibu negara pertama tersebut.

Peduli Persamaan Hak

“ Dimana ada Rasa Persamaan nasib dan persamaan cita-cita, disitulah tempat yang subur bagi rasa persatuan “ —Fatmawati Sukarno, 1949

Adalah sebuah gagasan dari Fatmawati yang memimpikan persatuan dengan pemerataan hak, tampa menyoalkan perbedaan yang ada. Dewasa ini perempuan dominan dianggap hanya sebagai obyek penderita, pelengkap, pasangan hidup yang biasa disebut dengan analogi dapur, pupur dan kasur. Terlebih dalam perspektif masyarakat tradisional. Hal ini tentu berdampak pada posisi perempuan yang kurang berpengaruh dalam konteks sosial dan berbagai bidang ilmu lainnya.

Tentu paradigma tersebutlah yang harus kita ubah dalam konsep berfikir masyarakat Indonesia, namun tidak serta merta dengan waktu yang singkat hal itu akan tercapai. Semua elemen harus bersinergis dalam mewujudkan hal tersebut, terkhusus perempuan harus terus memperjuangkannya.

Sosok Sederhana

Sebagai seorang perempuan yang lahir dan dibesarkan didalam dusun serta dimasa kecilnya sudah mengenal sulitnya kehidupan sehingga harus berjualan pecal dan kacang bawang ditempat yang didatangani oleh banyak orang. Hal ini yang kemudian membuat sosok dari Fatmawati begitu sederhana sampai saat ini menjadi ibu negara Indonesia yang pertama. Pernah pada awal kemerdekaan pada tahun 1946 saat ibu kota Indonesia dipindahkan sementtara dari Jakarta ke Yogyakarta, Fatmawati memasak sendiri untuk menjadi para pemimpin yang datang. Bahkan ketika pertama kalinya berangkat ke luar negeri, Fatmawati harus meminjam beberapa perhiasan dari istri Sekretaris Negara yang memiliki persedian perhiasaan. Hal ini dikarenakan bahwa Fatmawati tidak memiliki perhiasan apapun.

Penampilan dari Fatmawati pun selalu tampil sederhana, mengenakan kerudung dan kebaya. Dengan kesederhanaan yang dimiliki oleh Ibu negara pertama tersebut mengajarkan masyarakat Indonesia dan turut sepenanggungan merasakan penderitaan bersama yang pada awal-awal kemerdekaan.

Berpendirian Teguh

Fatmawati yang pintar mengaji dari kecil sudah diberi pengetahuan agama bahkan ketika Fatmawati sudah memasuki sekolah di HIS ( Hollandsch Inlandsch School ) pada tahun 1930, Fatmawati tetap diberi pendidikan agama dengan belajar agama secara ekstra disekolah Standar Muhammdiyah. Dengan semangat terus belajar disertai pengalaman dan sosial secara tidak langsung telah membentuk sosok Fatmawati yang kuat sedari dini sehingga memiliki pendirian yang teguh.

Ketika Bung Karno hendak menyatakan cinta kepada Fatmawati, Fatma menolak bukan karena tidak mencintai bung saat itu namun karena fatmawati memiliki ketegasan dan berpendirian yang teguh bahwasanya dia tidak mau dipoligami oleh bung karno, mengingat karena bung Karno masih memiliki istri yang sah yaitu Inggit Garnasih yang kemudian diceraikan karena belum memiliki keturunan dan sang istri tidak mau dimadu. Bahkan ketika Fatmawati ingin dimadu oleh bung Karno, Fatmawati meminta cerai namun karena Bung Karno tidak mau akhirnya Fatmawati meminta agar mereka berjauhan. Dengan sikap ketegasan dan prinsipil Fatmawati ingin mengajarkan bahwa perempuan pun memiliki hak dan status yang sama dengan kaum laki-laki, pun karena rasa empati terhadap sesama kaum perempuan.

Tentu masih banyak hal lain yang dapat dicontoh dan diteladani dari sosok Fatmawati namun dengan momentum kemerdekaan Republik Indonesia kembali kita diingatkan akan putri Bengkulu yang sudah berjasa dalam merajuk sang merah putih. Kita sebagai masyarakat Indonesia dan generasi muda penerus harus kembali merefleksikan serta meneladani nilai-nilai perjuangan Fatmawati sehingga tidak salah ketika kemudian Fatmawati menjadi salah satu role model  untuk kita semua secara khusus perempuan Indonesia

Masyarakat Bengkulu harus bersyukur ketika nama Fatmawati akan diabadikan dalam bentuk monumen yang nantinya monumen tersebut akan diletakkan di Simpang Lima Ratu Samban kota Bengkulu. Kita harapkan bersama bahwa monumen ini nantinya menjadi icon baru bagi kota bengkulu serta menjadi pengingat akan nilai-nilai perjuangan yang sudah ditanamkan oleh Fatmawati kedalam bangsa ini.

Saat ini pun kita berharap proses pembuatan filim Fatmawati berjalan lancar yang sedang berjalan di Bengkulu agar segera rampung. Filim yang mengangkat kisah perjuangan Fatmawati juga diharapkan agar mengangkat dan memperkenalkan budaya bengkulu serta bengkulu sendiri dikaca nasional.

Akhirnya Momentum hari kemerdekaan ini harus menjadi perenungan bagi seluruh masyarakat Indonesia secara khusus perempuan-perempuan Indonesia akan nilai dan perjuangan yang sudah ditanamkan dari putri Bengkulu sang perajut merah putih, serta menjadi sebuah catatan reflektif untuk melanjutkan dan meneruskan perjuangan dan kebaikan dalam sikap dan kepribadiannya menuju masyarakat Indonesia yang unggul dan Indonesia yang berkemajuan secara khusus dalam wilayah Bengkulu sendiri.

Merdeka !!!

Penulis : Yedija Manullang

Rekomendasi

Ruangan komen telah ditutup.