Wartawan Nusantaraterkini.com Terdaftar di Box Redaksi, Untuk Bergabung menjadi wartawan seluruh indonesia Hubungi : +62 822-8273-3432

Tes PCR Berubah Ini Penyebabnya…!

Loading...

Bengkulu,Nusantaraterkini.com – Sepekan terakhir masyarakat di Provinsi Bengkulu dibuat bingung dengan dinyatakannya Walikota Bengkulu Helmi Hasan terkonfirmasi positif COVID-19 oleh Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Bengkulu, namun tidak lama setelah itu, hasil tes usap di Rumah Sakit (RS) Mayapada Jakarta dan Rumah Sakit PELNI, Helmi justru dinyatakan negatif COVID-19.

Berawal dari hasil pemeriksaan tes usap di laboratorium Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Yunus Bengkulu pada 28 Agustus 2020, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Herwan Antoni kemudian mengumumkan bahwa Helmi Hasan terkonfirmasi positif COVID-19 pada Selasa 1 September 2020.

Setelah ramai diberitakan positif COVID-19, Helmi justru mengumumkan hasil pemeriksaan di rumah sakit lain pada hari yang sama dengan diumumkannya dia positif COVID-19. Helmi bahkan melakukan pemeriksaan di 2 rumah sakit sekaligus, hasilnya Helmi dinyatakan negatif COVID-19 berdasarkan hasil tes usap yang sama seperti di RSUD M Yunus.

Mengenai test Covid-19, diantaranya Swab dan PCR (Polymerase Chain Reaction), adalah metode yang digunakan di Indonesia dalam mendeteksi keberadaan virus corona (Covid-19) pada seseorang.

Menurut Mayo Clinic, tes swab sendiri merupakan proses pengambilan sampel lendir dari saluran pernapasan.

Caranya dengan mengusap tenggorokan melalui mulut dan hidung.

Hal ini dilakukan karena virus corona sama seperti flu, yaitu menyerang saluran pernapasan, sehingga hasil dari sampel tersebut akan diuji kebenarannya di laboratorium.

Namun berbicara mengenai tes swab ini, tak bisa dipungkiri bahwa masih banyak masyarakat yang meragukan keakuratan hasilnya sendiri.

Diketahui banyak pasien yang bingung lantaran hasil swab dinilainya bisa berubah, seperti hari ini negatif namun dua atau tiga hari kemudian positif.

Lantas muncul pertanyaan apakah hasil swab tes sebetulnya tidak terlalu akurat?

Dikutip dari health.grid.id Achmad Yurianto, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Ditjen P2P Kemenkes) pun akhirnya merespon keraguan masyarakat tentang tes swab ini.

“Kalau ambil swab-nya salah, dan kalau ambil darah sih gampang lah. Kalau ini yang ambil salah, kemudian virusnya lepas, yang ambil bisa kena juga. Jadi banyak risiko, sehingga harus spesifik yang melakukan,” ucap Yuri

Lantas, apakah hasil swab tes sebetulnya tidak terlalu akurat?

Yurianto menjawab, hasil itu bisa dikatakan hasil tes akurat manakala prosedurnya benar.

Hal ini diperkuat dengan statement  dr Nathalie MacDermott dari King’s College London yang dikutip dari health.detik.com  “Mereka (suspek) dites akurat secara umum dengan RT-PCR, yang tingkat false-positive rendah dan false-negative rendah,” kata dr Nathalie MacDermott dari King’s College London.

Namun, sebuah studi dalam jurnal Radiology menunjukkan 5 dari 167 pasien yang negatif dengan kondisi paru-paru yang sakit, malah dinyatakan positif saat dites kembali. Bahkan dengan adanya penemuan ini, dr Nancy Messonnier dari Centers for Disease and Prevention mengatakan hasil tes uji tersebut tidak meyakinkan.

“Gejala COVID-19 ini mirip dengan penyakit pernapasan lainnya. Mungkin saat pertama diuji, mereka tidak terinfeksi, tapi seiring berjalan waktu mungkin mereka terinfeksi, dites kemudian positif. Itu kemungkinan,” kata dr MacDermott.

“Pada kasus Ebola, kami selalu menunggu sampai 72 jam setelah hasil negatif keluar. Ini untuk memastikan virus tersebut benar-benar tidak ada di dalam tubuh manusia,” imbuhnya.

dr MacDermott juga memperkirakan bisa saja dokter yang mengujinya mengambil sampel yang salah dan hasilnya negatif. Agar lebih akurat, ia menyarankan untuk mendapatkan kode genetik virus yang tepat dulu sebelum menjalani tes.

“Selain itu, para petugas medis juga harus terus menguji atau tes lagi para pasien, selama mereka masih memiliki gejala untuk memastikan secara akurat,” harapnya

Dan juga orang yang positif covid-19 saat dia menjaga pola hidup sehat dan perbanyak minum vitamin bisa jadi saat di PCR kembali hasil nya berubah begitupun sebaliknya(WSP)

 

 

Rekomendasi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.