Sidang Perdana Kasus Pembacokan Di Tahiti Diwarnai Aksi Demo

NusantaraTerkini.Com, Papua – Pengadilan Negeri (PN) Klas 1 A Jayapura menggelar sidang perdana kasus pembacokan dengan tiga terdakwa yakni, Ikhsan (23), Ardiansyah (19) dan M. Wildansyah (19), Kamis (25/10) sore.

Ketiganya melakukan pembacokan terhadap kakak beradik Alm. Dhany Subhi Nuzli (28 tahun) dan Alm. Hasmi Rajbun (32 tahun) di depan rumah korban, Depan Pos Patmor Tanah Hitam Kelurahan Asano, Distrik Abepura, Kamis (10/5/2018) lalu.

Berkas atas nama Ikhsan dan Ardiansyah tercatat dengan nomor perkara 635/Pid. B/2018/PN Jap sementara Wildansyah dengan berkas terpisah bernomor 636/Pid B/2018/PN Jap.

Salah Satu Terdakwa Pembacokan Dikawal Ketat Aprat Kepolisian (Foto: Faisal)

Pada sidang tersebut Ikhsan dan Ardiyansyah menjalani sidang lebih awal kemudian dilanjutkan dengan Wildansyah.

Sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) ini berjalan dengan diwarnai aksi demo. Dan akan kembali dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan saksi pada Rabu, (31/10) mendatang.

Sementara di luar ruang persidangan, sejak pukul 01.15 Wit ratusan masa yang tergabung dalam ‘Solidaritas kawal kasus Tahiti’ menggelar demo damai di depan Pengadilan Negeri.

Pantauan di lokasi, masa yang marah sempat melempar ketiga pelaku dan kendaraan menggunakan air minum dalam kemasan.

Masa menuntut agar ke tiga pelaku dijerat pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Koordinator masa La Mochtar Unu kepada wartawan di sela-sela aksi demo juga mengatakan, solidaritas tersebut terdiri dari berbagai perwakilan dan wilayah, diantaranya Kerukunan Keluarga Buton (KKB) Jayapura dengan basis beragam, yakni warga Abepantai, Tanah Hitam, Kampung Buton Skyline dan Abepura.

Solidaritas Kawal Kasus Tahiti Gelar Unjuk Rasa Di Depan PN Jayapura (Foto: Faisal)

“Kami menilai ini berencana, karena pertama salah satu pelaku datang pada 7 Mei 2018 dan kembali lagi dengan dua pelaku lain pada Kamis 10 Mei 2018 saat itu membawa alat tajam. Jadi ini ada niat dan direncakan pelaku,” ujar Mochtar.

Hal senada juga disampaikan Alimudin ketua Kerukukan Keluarga Buton (KKB) Provinsi Papua yang meminta penegak hukum agar bertindak sesuai prosedur yang berlaku.

“Secara tidak langsung dilihat dari kronologis ini masuk dalam pasal berencana. Jadi kami hanya minta keadilan, apa lagi kasus ini sudah lima bulan lamanya, kami kecewa dan kami ingin proses ini secepatnya selesai dengan tak usah berbelit-belit, jika putusan pembunuhan berencana kami akan relakan dua kelurga kami yang dibunuh,” tegas Alimudin.(FN)

Rekomendasi
Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.