Siapa Terbitkan Surat Keterangan Tanah Salim Kancil?

Nusantaraterkini.com (Lumajang) – Pengakuan Ika Nurila, putri almarhum Salim Kancil mengklaim 6 bidang lahan yang digarap keluarganya saat ini mempunyai Surat Keterangan Tanah (SKT) dari Desa Selok Awar-Awar masih diragukan kebenarannya dan legalitasnya. Pasalnya, Ika Nurila saat dikonfirmasi awak media ini, Sabtu (20/2/2021) lewat sambungan selular dan WhatsApp (WA) kapan SKT tersebut dikeluarkan dan siapa Kepala Desa (Kades) Selok Awar-Awar yang menandatangani memilih bungkam.

Kades Selok Awar-Awar, Didik Nurhandoko mengaku tidak tahu soal SKT yang dipegang pihak keluarga Salim Kancil. Didik Nurhandoko menyarankan awak media ini konfirmasi kepada Sekretaris Desa (Sekdes) Selok Awar-Awar, Badrus atau mantan Kades Selok Awar-Awar yang lama karena mengetahui kronologisnya. Setali tiga uang, Sekdes Selok Awar-Awar, Badrus mengatakan kurang paham kalau terkait SKT yang diberikan kepada keluarga Salim Kancil tersebut.

“Dulu waktu menjabat sebagai Plt Kades Selok Awar-Awar, saya tidak mengeluarkan SKT,” ucap Badrus singkat, Minggu (21/2/2021).

Mantan Kades Selok Awar-Awar, Eko yang mengaku menjabat tahun 2018 – 2020 menegaskan tidak pernah menerbitkan SKT seperti yang diklaim Ike Nurila. Ia lantas bercerita di tahun 2019, dirinya didatangi pihak PT Lautan Udang Sejahtera Indonesia (LUIS) yang ingin membuka usaha tambak udang di Selok Awar-Awar. Kemudian dia berkoordinasi dengan Muspika Pasirian dan selanjutnya menfasilitasi pertemuan PT LUIS dengan para penggarap yang lahannya hendak digunakan PT LUIS.

“Waktu itu semua penggarap sepakat lahan garapan mereka digunakan PT LUIS dan diberi kompensasi. Kecuali keluarga Salim Kancil menolak untuk diberi kompensasi dengan alasan lahan garapannya akan dibuat konservasi. Kita hormati keputusan keluarga Salim Kancil, karena memang dari awal sudah kita tegaskan tidak ada paksaan,” ujarnya, Minggu (21/2/2021).

Ditanya soal status kepemilikan tanah yang dimiliki oleh penggarap lahan tersebut, Eko mengatakan tidak tahu. Ia hanya mengetahui tanah yang dikuasai para penggarap itu disebut tanah oloran. (Fajar Yudha Wardhana)

Rekomendasi

Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.