Sakit Tak Ada Perhatian Pemerintah, Warga Miskin Pengasuh 5 Yatim-Piatu Tutup Usia

Jember- Sudah 3 bulan lamanya menderita sakit lambung, Sulastri seorang ibu rumah tangga yang hidupnya serba kekurangan, namun masih rela memikul beban mengasuh dan merawat sekaligus 5 anak yatim piatu, kini telah tutup usia.

Sulastri wafat di usia 50 tahun pada Kamis malam, (22/01/21) pukul 21.30 Wib.Almarhumah menghembuskan nafas terakhirnya di samping suami tercinta serta ke 5 anak yatim-piatu yang sudah dia rawat selayaknya anak kandung sendiri.

Wanita tangguh berhati mulia ini meninggal dunia di kediamanya yang sederhana hasil bantuan dari para donatur, di Dusun Jatiagung Desa Gumukmas Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember.Jenazah Sulastri oleh keluarga di kubur di pemakaman umum pada pagi ini, Jumat, (22/01/21).

Ribut, suami mendiang Sulastri menuturkan, sebelum meninggal istrinya mengeluh sakit pada lambungnya yang membengkak, disertai rasa panas pada sekujur tubuh, lantaran menderita sakit liver.

Katanya, sang istri sebelumnya juga sempat di rawat di Klinik Jombang selama 2 hari namun tidak ada perkembangan hasil sembuh alias nihil.Terlebih karena faktor tidak memiliki biaya, terpaksa Sulastri dia bawa pulang kembali ke rumah.

“Setelah itu hanya menjalani rawat jalan dengan membeli obat di apotik yang dananya terbatas dari sumbangan warga yang bersimpati, ” tuturnya.

 

Selama istri terbaring sakit, terang Ribut, belum ada pihak Pemerintah setempat baik dari Kecamatan maupun Desa yang datang menjenguk guna memberikan bantuan maupun membawanya ke rumah sakit untuk menikmati haknya, yakni fasilitas pengobatan dan perawatan gratis yang sudah dianggarkan oleh pemerintah untuk warga miskin.Padahal bantuan tersebut sangat Ia harapkan.

“Selama saya di rumah tidak ada pihak pemerintah Desa maupun Kecamatan datang ke sini.Ada yang membantu memberi sembako dan uang tapi dari warga masyarakat dan kemarin imigrasi kesini ngasih bantuan, ” ucap Ribut.

Kini sepeninggal sang istri, Ribut bertekad akan merawat sekuat tenaga 5 anak yatim-piatu hingga mereka dewasa nanti. “Karena ini amanat dari orang tua kandung dan almarhumah istri, anak-anak akan saya rawat dan sekolahkan sekuat saya sampai besar, ” ucapnya.

Sulastri wafat meninggalkan suami dan 5 anak yatim-piatu.Kelimanya merupakan anak kandung dari adik Sulastri yang di titipkan kepadanya sejak ditinggal mati kedua orang tua 2 tahun yang lalu.

Kelimanya adalah, Fiki Firmansyah merupakan anak pertama lulusan SD, anak kedua bernama Ananta randa maulana masih sekolah kelas 5 SD, ketiga Amelia Anda Rista saat ini kelas 4 SD ,berikutnya Novika Salsafira duduk di bangku kelas 1 SD dan satu lagi umur 3 tahun belum sekolah.

Usai lulus SD setahun lalu, Fiki ternyata lebih memilih bekerja ketimbang harus melanjutkan sekolah ke jenjang SMP.Fiki bekerja di pabrik krupuk di Surabaya sebagai buruh harian lepas.

Hal ini lantaran demi untuk membantu Ibu angkatnya.Sebab Dia sadar, ke 4 adik-adiknya yang kini sama-sama di asuh budenya, juga membutuhkan biaya hidup sehari-sehari maupun biaya sekolah.Kini Fiki terpaksa pulang ke rumah sebab pabrik tempatnya bekerja tutup karena pandemi dan kini Ia menganggur sembari merawat ibu asuhnya selama sakit.

Semasa hidupnya, Sulastri bersama suami bisa dikatakan ekonominya serba kekurangan.Terlebih harus menopang biaya hidup 5 anak yatim piatu yang sudah menjadi tanggung jawabnya.

Oleh karenany, Sulastri harus bekerja membanting tulang bekerja sebagai buruh tani dengan upah sangat minim, itupun jika ada yang menyuruh.

Apabila musim panen tiba, Sulastri pergi kesawah untuk memungut sisa hasil panen yang terbuang atau istilah masyarakat setempat menyebutnya “Ngasak”.

Sisa hasil panen tersebut Dia kumpulkan sedikit-demi sediki.Hasilnya Ia bawa pulang untuk makan dan kebutuhan lainnya serta biaya sekolah 5 anak yatim piatu ini. (Tahrir)

Rekomendasi

Ruangan komen telah ditutup.