RSKJ Bengkulu Beri Penyuluhan Terkait Pengenalan dan Pencegahan Risiko Bunuh Diri

Bengkulu,Nusantaraterkini.com – Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Soeprapto Provinsi Bengkulu, Senin (11/9/2023) menggelar penyuluhan terkait dengan pengenalan dan pencegahan risiko bunuh diri.

Mulai dari faktor risiko bunuh diri, kategori risiko bunuh diri, tanda-tanda ancaman bunuh diri, hingga hal yang perlu diperhatikan atau diwaspadai.

Kegiatan penyuluhan, dilaksanakan oleh petugas dari Instalasi Kesehatan Jiwa Masyarakat (Keswamas), yang berkoordinasi dengan unit-unit yang ada di RSKJ, dalam program Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS).

Dengan pemateri, yaitu dokter umum RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu, dr. Irvan Rivani.

Untuk peserta dalam penyuluhan tersebut ada puluhan peserta yang merupakan petugas, pasien, keluarga pasien dan masyarakat yang datang ke Poli Rawat Jalan RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu.

“Hari ini kita memberikan edukasi terkait pengenalan dan pencegahan risiko bunuh diri,” ungkap dokter umum RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu, dr Irvan Rivani.

Dijelaskan dr. Irvan ada 3 kategori risiko bunuh diri, di antaranya yaitu melalui isyarat, ancaman dan percobaan.

Untuk isyarat, pasien akan mengungkapkan perasaan seperti rasa bersalah, sedih, marah, putus asa, dan tidak berdaya.

Melalui ancaman, ancaman bunuh diri umumnya diucapkan oleh pasien, berisi keinginan untuk mati disertai dengan rencana untuk mengakhiri kehidupan.

Terakhir percobaan, yaitu ditandai dengan tindakan mencederai diri sendiri, misalnya gantung diri, minum racun, memotong urat nadi, atau terjun dari tempat tinggi.

Singapura awasi banyaknya kasus bunuh diri pekerja migran saat pandemi
Foto Ilustrasi

Selanjutnya ada sejumlah faktor risiko bunuh diri, yaitu hal-hal yang memperbesar kemungkinan individu melakukan perilaku bunuh diri.

Di antaranya seperti pernah mencoba bunuh diri, memiliki gangguan jiwa, situasi finansial, kehilangan material secara mendadak.

Memiliki penyakit kronis, penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan, terpapar peristiwa bunuh diri yang dilakukan orang lain, serta kaum minoritas terpinggirkan.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan jika melihat ada gejala seseorang akan melakukan bunuh diri.

Pertama berikan stigma, pasalnya orang perlu berbicara tentang bunuh diri dan membuka pintu komunikasi bagi mereka yang menderita pikiran bunuh diri.

Mereka perlu tahu bahwa mereka tidak sendirian, ada orang yang siap sedia mendukung mereka di saat-saat tersulit.

Selanjutnya kenali tanda-tandanya, lakukan pendekatan, libatkan dalam setiap aktivitas, berikan perhatian penuh.

“Selain itu bisa juga dengan cara minta bantuan profesional, salah satunya seperti RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu,” kata Irvan.

Masyarakat bisa membawa seseorang yang diduga memiliki faktor risiko bunuh diri, ke IGD RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu.

Nanti pihak RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu yang akan menentukan apakah seseorang tersebut harus dirawat inap, atau cukup kontrol di poli saja.

“Untuk poli nanti tergantung dari hasil pemeriksaan di IGD,” ujar Irvan.(Adv)

 

 

 

Rekomendasi

Ruangan komen telah ditutup.

You cannot copy content of this page