Ayo Gabung, Menjadi Jurnalis Profesional, di Seluruh Indonesia, Kontak : 082279249494

Relawan Bela Negara Jakarta, Mitigasi Gempa Bumi di Giriawas Garut

Garut – Sirine yang berbunyi sebagai tanda pergerakan tanah meraung di SDN 4 Giriawas, Jalan PTPN VIII Giriawas, Desa Giriawas Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Sontak murid-murid berhamburan keluar kelas sambil memayungi kepala mereka dengan tasnya masing-masing.

Loading...

Di lapangan sekolah, sejumlah murid menjerit histeris. Beberapa lainnya ada yang masih tertinggal di dalam kelas, beberapa anak berinisiatif masuk ke dalam kelas untuk menyelamatkan temannya. Seorang guru, Tini Hasanah, S.Pd, menyeru “Istighfar, bukan teriak-teriak,” ujarnya di kerumunan anak di tengah lapangan sekolah.

Murid yang berteriak keras lantas diketawain oleh teman-temannya, dan walaupun sudah diwanti-wanti untuk serius, namun beberapa tetap bercanda dalam menjalani simulasi bencana alam gempa bumi ini. Jumat (26/4/2019).

Kegiatan mitigasi bencana yang diprakarsai oleh relawan Bela Negara dari Yayasan Barisan Patriot Bela Negara (YBPBN) Jakarta ini, dilakukan sebagai upaya mengurangi risiko serta meningkatkan kewaspadaan masyarakat Giriawas khususnya anak-anak agar minimal mampu menyelamatkan diri saat bencana terjadi. Hal ini dipaparkan Cepi Gantina, salah seorang anggota Bela Negara (celana loreng Bela Negara), di depan kelas sebelum sirine dibunyikan.

“Kegiatan simulasi ini sangat perlu untuk mengurangi risiko di daerah rawan bencana, biar anak-anak lebih terampil dan waspada terhadap peristiwa gempa minimal menyelamatkan diri pribadinya,” ucapnya.

Dipaparkannya mendalam, melihat Indonesia adalah wilayah rawan gempa karena berada di wilayah cincin api Pasifik, membuat negara ini menjadi ladang gempa bumi. Bukan hanya itu, sabuk alpide yang melewati Indonesia juga menyumbang potensi gempa serta posisi Indonesia juga berada tepat di tengah tumbukan lempeng tiga benua, yaitu Pasifik di arah timur, Indo-Australia di arah selatan serta Eurasia di utara.

“Satu faktor saja sudah cukup untuk menjadikan suatu kawasan sebagai wilayah rawan gempa, dan kebetulan Indonesia memiliki tiga faktor sekaligus. Ini juga dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana yang jatuh tanggal 26 April,” imbuhnya.

Kegiatan ini mendapatkan respon positif dan ucapan terima kasih dari Kusnadi, S.Pd, salah seorang pengajar mewakili Kepala Sekolah, Awang Fatimah, S.Pd.SD. Pihak sekolah berharap, kedepan simulasi serupa bisa terpelihara minimal tiga bulan sekali agar anak didik lebih terampil dan tanggap. (Kusnadi/Aan Brebes).

Loading...

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

sixteen + 7 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.