Terbit : 5 Agustus, 2019 - Jam : 13:35

Rehab Rumah TMMD Tegal Naik Rangka Atap, Sri Syukuran Munggah Molo

Loading...

Tegal – Pekerjaan rehab Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik Sri Tutik (33) atau Sri, buruh cuci dan buruh tani asal Dukuh Bulak Banteng RT. 01 RW. 06, Desa Jatimulya, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal, memasuki tahap pasang rangka atap rumah. Senin (5/8/2019).

Sungguh cepat pekerjaan yang dilakukan oleh anggota Satgas TMMD dan masyarakat setempat, karena dikerjakan secara terkoordinir dan gotong royong. Pekerjaan lainnya adalah plesterisasi dinding termasuk kusen dan boven.

Rumah naik rangka atap (molo) untuk menyangga genteng, sebagai orang yang masih memegang tradisi leluhur Jawa, Sri melakukan tradisi upacara adat “munggah molo”, yaitu memasang sesaji sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan.
Dibenarkan Kepala Dusun, Rismono Diarto (42), bahwa tradisi ini dilakukan pada pagi hari. Dijelaskannya singkat, dalam adat jawa sesaji memiliki makna masing-masing. Pisang setandan dimaksudkan agar terbina harmonisasi keluarga dengan masyarakat sekitar, tebu yang dicabut dari pangkal diartikan agar keluarga ikhlas dalam melakukan kebaikan layaknya pangkal tebu yang menopang batang tebu, seikat padi kuning melambangkan keluarga dapat menggapai kejayaan dan kemakmuran, namun semakin sukses semakin merunduk seperti padi.

“Buah kelapa melambangkan agar keluarga menjadi kuat dan dapat bermanfaat bagi orang lain. Sedangkan Bendera Merah Putih menandakan nasionalisme,” bebernya.

Dijelaskannya lanjut, koin/uang receh sebagai modal usaha, jajanan pasar sebagai ungkapan syukur, pakaian menandakan keluarga harus selalu menutup aurat. Kayu salam dan daunnya mengharapkan keselamatan dari Sang Pencipta.

“Masih ada sesaji lainnya seperti batang pisang, kendi, paku warna emas, payung dan lain-lain, namun tentunya sesuai kemampuan pemilik rumah,” tandasnya.

Setelah syarat tersedia, maka tokoh agama akan memimpin doa adat, dan selanjutnya ayam panggang dan jajanan pasar dimakan bersama para tukang dan masyarakat sekitar. Tradisi akulturasi Jawa dan Islam yang telah ada ini, bukan berarti melenceng dari syariat islam, hanya saja ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. (Aan/Red)

Rekomendasi

Ruangan komen telah ditutup.