Terbit : 27 Agustus, 2019 - Jam : 19:12

Ratusan Pasutri Korban Konflik dan Tsunami Aceh Besar Ikuti Isbat Nikah

Loading...

Aceh – Sebanyak 180 pasangan suami istri korban konflik, korban tsunami dan warga miskin di Kabupaten Aceh Besar dilakukan Isbat Nikah di Aula Gedung Dekranasda Aceh Besar di Gampong Gani, Kecamatan Ingin Jaya, Selasa (27/8/2019).

Isbat nikah merupakan pengesahan secara hukum ikrar nikah yang telah dilakukan sebelumnya.

Kegiatan tersebut digelar atas kerjasama Dinas Syariat Islam Aceh bersama Mahkamah Syari’ah Jantho, Kankemenag Aceh Besar, Dinas Syariat Islam dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Aceh Besar yang dibuka secara resmi oleh Asisten II Setdakab M Ali SSos MSi.

Dalam sambutannya, M Ali menyampaikan, terterima kasih kepada dinas syariat islam propinsi Aceh dan Mahkamah syariah, Kemenag Aceh, Disduk Capil Aceh Besar yang telah bekerjasama untuk melakukan kegiatan isbat nikah untuk masyarakat Aceh Besar korban Konflik, Korban Tsunami dan Masyarakat Miskin yang kurang mampu yang sampai hari ini memiliki buku nikah.

“Hari ini dengan kerjasama dari 4 instansi tersebut, hari dilakukan isbat nikah 180 pasangan, mudah-mudahan yang telah terdaftar ini memenuhi syarat dan ketentuan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur(SOP) yang berlaku dan dikeluarkan buku nikah,” ujarnya.

Diketahui bahwa, buku nikah ini sangat bermanfaat salah satunya perlindungan kepada seorang istri dan juga kepastian hukum terhadap anak-anaknya. Ia berharap kedepan Dinas Syariat Islam Propinsi dan Pihak terkait masih melaksanakan program seperti ini.

Berdasarkan hasil kerjasama Dinas Syariat Islam Aceh dengan Mahakmah Syariah Aceh bahwa program isbat nikah ini akan berakhir pada tahun 2021. Artinya setelah program propinsi ini berakhir, kalau masih ada warga Aceh Besar masih ada yang belum memiliki buku nikah, tentu akan menjadi pemikiran masyarakat Aceh Besar kedepan.

Menurutnya terkait jumlah warga Aceh Besar belum ada buku nikah belum ada datanya secara resmi, namun pihaknya akan melakukan pengecekan dengan pihak kankemenag dan dinas syariat islam dan disdukcapil.

Kakanwil Kemenag Aceh Besar Abrar Zym mengatakan, pihaknya telah mengambil data di 18 dari 23 Kecamtan di Aceh Besar artinya masih ada 5 kecamatan lagi yang tersisa masih ada warga yang belum memiliki buku nikah.

Ia berharap satu sisi, angka isbat nikah ini harus berkurang karena dinas syariat islam propinsi ada batas 2006 untuk warga korban konflik dan korban tsunami, 2010 untuk warga miskin. Kita berharap masyarakat untuk sadar hukum dan menikah di kantor KUA

Sementara itu, Kepala Bidang Hukum Syariat Islam dan Hak Asasi Manusia Dinas Syariat Islam Aceh Husni M Ag menyebutkan, masyarakat yang mengikuti kegiatan ini dibatasi tahun menikahnya. Bagi korban konflik pihaknya membatasi hanya kepada pasangan yang menikah pada tahun 2006 ke bawah, sementara masyarakat miskin yang menikah 2010 ke bawah. “Ada anggapan  menikah tahun 2010 ke bawah belum gratis, tapi sekarang sudah gratis menikah di KUA,” sebutnya.

Lebih lanjut katanya, berdasarkan MOU yang ada, bahwa 5 tahun kedepan, isbat nikah ini harus selesai, kalau ternyata nanti ada disebagian daerah ada yang perlu dilakukan isbat nikah antara waktu yang sudah ditentukan ini sudah berakhir ini bisa dikerjakan oleh Kabupaten Kota, tapi dengan data-data yang akurat. Katanya selama ini belum ada data yang akurat berapa jumlah pasangan suami istri yang belum memiliki catatan nikah secara hukum Negara meskipun secara hukum Islam sudah sah.

“Kabupaten Kota harus menyiapkan data yang valid dan akurat, dari sisa di beberapa Kecamatan dan Kabupaten Kota di Aceh. Namun demikian, pasutri yang ingin melakukan isbat nikah ini dapat langsung dengan biaya sendiri ke mahkamah syariah, ini merupakan salah satu jalan untuk menyelesaikan isbat itu sendirinya,” jelas Husni.

Kemudian juga, ada program-program yang dilakukan oleh mahkamah syariah sendiri dengan sidang keliling  yang barangkali biayanya dibantu oleh pemerintah pusat. Husni meyakini bahwa isbat nikah ini akan selesai dengan beberapa kategori difasilitasi oleh beberapa komponen baik Kabupaten Kota atau personal sendiri.

“Ada sekitar 7000 sekian sudah dilakukan isbat nikah yang difasilitasi oleh Propinsi dan Kabupaten Kota berdasarkan data-data yang ada. Kita menargetkan pada tahun 2021 dengan berakhirnya MOU Dinas Syariat Islam Aceh dengan mahkamah syariah dapat tercapai target Isbat nikah 21.155 pasangan hal itu mengacu pada data-data dari kemenag,” pungkasnya

Sementara itu, salah satu pasangan suami istri peserta Isbat Nikah Aceh Besar tahun 2019 ini saat diminta tanggapannya mengakui program ini sangat membantu masyarakat terutama korban tsunami untuk mendapatkan kembali buku nikahnya yang telah hilang saat musibah gempa dan Tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004 lalu.

“Kami mendapatkan informasi isbat nikah ini dari Kantor Urusan Agama Kecamatan (KUA KEC) yang memberitahukan kepada warga yang tidak memiliki buku nikah untuk dilakukan isbat nikah kembali, Alhamdulillah program ini sangat membantu terutama masyarakat miskin, korban konflik dan tsunami,” ujar pasangan yang dulunya melakukan pernikahan pada tahun 2000 lalu Ramli (52 tahun) didampingi istrinya Bidiawati (42 tahun) warga asal meunasah Baro, Lampuuk Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar.

Hal yang sama juga disampaikan pasangan suami istri Asal Lam Jamee Dayah Kecamatan Simpang Tiga, Ia menikah dulu pada masa konflik “Kami menikah secara resmi di mesjid, namun saat itu tidak ada buku nikah yang saat itu masih sangat semeraut administrasi yang diakibat oleh konflik Aceh bersama Pemerintah Republik Indonesia,” ujar Muliadi didampingi istrinya Zuhra. (Ismail)

Loading...
Rekomendasi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.