Puluhan Nelayan Aceh Timur Tiba di Aceh

Loading...

ACEH Sebanyak 22 orang nelayan asal Aceh Timur yang tergabung dalam ABK KM Troya tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Senin (15/4).

Kepulangan para Anak Buah Kapal (ABK) itu diantar langsung oleh pihak Kementerian Luar Negeri untuk Myanmar yang disambut oleh Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah bersama Dinas Sosial Aceh, Dinas Kelautan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, serta Panglima Laot Aceh.

Pada kesempatan itu, Nova Iriansyah sebagai Pemerintah Aceh mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Myanmar sebagai negara sahabat, dan kerja keras Kementerian Luar Negeri melalui Duta Besar di Myanmar yang telah membantu pemulangan nelayan Aceh sehingga mereka bisa kembali ke kampung halaman.

Ia menambahkan, dalam upaya untuk tidak terulang lagi kejadian yang sama terhadap nelayan Aceh, pihaknya akan melakukan berbagai upaya diantaranya memberikan workshop dan pengadaan alat sedarahana yang bisa dibagikan ke nelayan sehingga kejadian seperti ini tidak lagi terulang.

Hal senada juga disampaikan, Kasubdit Perlindungan dan BHI Kementrian Luar Negeri, Neni Kurniati, Ia mengatakan, keberhasilan pemulangan 22 dari 23 nelayan Aceh tersebut berkat kombinasi upaya diplomasi yang baik kedua negara. Namun untuk kapten kapal harus menjalani persidangan di Myanmar sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku disana.

“Kepada para nelayan kami sangat berharap agar mematuhi ketentuan-ketentuan perbatasan yang tidak boleh dilanggar, sehingga kejadian ini tidak lagi terulang,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial Aceh, Alhudri, yang diwakili Sekretaris Dinas Sosial Aceh Devi Riansyah menuturkan, bahwa para nelayan Aceh tersebut ditangkap karena sudah memasuki batas wilayah perairan Myanmar.

“Namun dengan koordinasi yang baik antara Pemerintah Myanmar dengan Kementrian Luar Negeri RI yang berkoordinasi dengan Pemerintah Aceh dalam hal ini Dinas Sosial sehingga pemulangan nelayan bisa dilakukan hari ini,” cetusnya.

Pada kesempatan itu juga, Devi berharap kepada masyarakat Aceh yang berprofesi sebagai nelayan terutama nelayan-nelayan yang erat kaitannya dengan perbatasan wilayah haruslah betul-betul memperhatikan batas wilayah.

“Ke depan kita berharap tidak ada lagi kejadian-kejadian seperti ini. Profesi nelayan memang tidak bia kita pungkiri, tapi kita harus membekali dengan sistem yang lebih baik, pengetahuan yang lebih baik sehingga kita tidak melanggar batas wilayah negara orang,” pungkas Devi Riansyah. [Is]

Loading...
Rekomendasi

Ruangan komen telah ditutup.