Prihatin dengan Sekolah Marginal Kuala Lala, Ini yang Dilakukan Mahasiswa KKN STIE-I

Loading...

INHU – Merasa prihatin terhadap kondisi Sekolah Dasar (SD) / Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Desa Kuala Lala, Kecamatan Sungai Lala Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), mahasiswa KKN-PPM angkatan XIII STIE-I, Rengat berupaya mencarikan solusi agar sekolah tersebut lepas dari sebutan marginal.

Ketua Kelompok KKN STIE-I Desa Kuala Lala, Dedi Syaputra didampingi Humasnya, Handika Karismon, mengatakan pihaknya akan berupaya membantu Desa yang menjadi tempat mereka magang, salah satunya terhadap sarana pendidikan.

“Kami sungguh prihatin dengan kondisi SD dan juga SMP Kuala Lala itu, tidak hanya masalah bangunan, jumlah guru dan murid juga minim,” ujarnya, Sabtu (22/2/2020).

SD Kuala Lala, kata Dedi Syaputra, merupakan filial dari SD Pasir Kelampaian, kelas I hingga kelas V belajar di SD Kuala Lala. Sementara itu kelas VI bergabung ke SD Pasir Kelampaian.

Demikian juga untuk SMP, kelas VII dan VIII belajar dibangunan SD Kuala Lala itu, sementara kelas IX harus bergabung ke SMP 3 Kelawat.

“Sedangkan SD dan SMP belajar pagi, berada di bangunan yang sama. Sungguh miris,” sebutnya.

Dedi Syaputra menambahkan, kendati fisik bangunan sekolah itu cukup bagus, namun masih kurang perawatan dan jumlah kelasnya. Sehingga pihak sekolah berinisiatif membagi dua atau tiga setiap lokal dengan menggunakan bahan seadanya sebagai penyekat.

“Triplek yang dijadikan penyekat ruangan sudah pecah-pecah, bahkan sekatnya tidak sampai ke loteng, kurang lebih hanya setinggi pinggang orang dewasa, akibatnya aktivitas pada masing masing lokal akan saling mengganggu,” tambahnya.

Dia juga mengatakan, ruangan yang terdapat di sekolah itu hanya ada 5. Satu ruangan dijadikan kantor, 2 ruangan untuk SD dan 2 ruangan lagi untuk SMP. “Dua ruangan itulah yang disekat sekat menjadi 5 kelas,” tukasnya.

Handika yang juga Presiden Mahasiswa STIE-I Periode 2020 – 2021 ini menambahkan, sekolah tersebut tidak memiliki papan nama, siswa SD perkelas jumlahnya rata rata 10 orang, sedangkan siswa SMP cuma 3 orang, jumlah guru untuk SD 5 orang dan guru SMP hanya 3 orang.

“Mungkin karena kondisi sekolah ini jauh dari kata layak serta anak-anak yang bersekolah di sini rata-rata dari keluarga menengah ke bawah, orang-orang melengketkan kata marginal kepada sekolah ini,” jelasnya.

Solusi yang dirumuskan Mahasiswa KKN STIE-I Desa Kuala Lala ini antara lain, menjadi guru bantu selama KKN, khusus mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia untuk kelas 3, 4 dan 5. Relawannya Handika Karismon, Hartana, Niken Pratiwi, Mirna Anggraini, Dedi Syaputra, Lintang Nurvelia, dan Riska Wahyuningsih.

Selain itu memberikan les tambahan di posko KKN kepada siswa SD dan SMP Kuala tersebut. “Kami juga akan membuat rencana detail pengembangan sekolah ini yang akan dikoordinasikan dengan Kepala Desa dan Dinas Pendidikan,” imbuh Dedi.

Handika Karismon dan kawan kawan, mahasiswa KKN-PPM STIE-I kelompok Desa Kuala Lala menjadi guru bantu di SD/SMP Kuala Lala selama KKN berlangsung 20 Feb – 17 Apr 2020 mendatang. (Holmes Pane)

Rekomendasi

Ruangan komen telah ditutup.

Aksi Dilarang