Personil Pos Pitewi di Papua Dipanggil ‘Pak Mantri’

NusantaraTerkini.Com, Jayapura – Sejak pukul 08.00 WIT, beberapa personel kesehatan Pos Pitewi dengan membawa satu set peralatan kesehatan mulai berkeliling mendatangi sejumlah rumah warga di Kampung Pitewi untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.

Selain bertugas menjaga dan mengamankan Patok Batas Negara Republik Indonesia, keberadaan Satgas Yonif Para Raider 501 Kostrad di Perbatasan RI-PNG juga harus bisa memberikan hal yang berarti bagi masyarakat perbatasan Papua.

Hal itulah yang mendasari Satgas Yonif Para Raider 501 Kostrad Pos Pitewi mengadakan pemeriksaan kesehatan secara door to door di Kampung Pitewi, Distrik Arso, Kabupaten Keerom (3/6/2018).

“Sengaja kami memilih hari libur untuk melakukan pemeriksaan dari rumah ke rumah dengan harapan ketika hari libur banyak warga yang tidak bekerja, sehingga memudahkan pemeriksaan dan pendataan,” jelas Dansatgas YPR 501 Kostrad Letkol Inf. Eko Antoni Chandra.

Kata Dansatgas, pemeriksaan yang dilakukan diantaranya pengecekkan tekanan darah, memberikan pengobatan terhadap warga yang terindikasi malaria, memberikan pengobatan terhadap warga yang sedang menderita sakit, serta memberikan konsultasi kesehatan kepada warga agar kesehatannya menjadi lebih baik.

Dalam kegiatan tersebut, Satgas 501 Kostrad mendatangi 10 rumah warga dan memberikan pengobatan terhadap 2 orang warga yang menderita demam tinggi dan terindikasi malaria, 2 orang warga yang mengalami infeksi luka, dan seorang warga yang menderita Hipertensi.

Karena kegiatan rutin sekali sebulan inilah personel kesehatan Pos Pitewi sering dipanggil dengan sebutan “bapak mantri” oleh kebanyakan warga. Panggilan “bapak mantri” diberikan kepada personel Satgas karena warga Kampung Pitewi telah menganggap personel kesehatan Pos Pitewi sebagai dokter mereka yang siap memberikan pelayanan kesehatan tanpa dipungut biaya kepada warga Kampung Pitewi.

Marthias, seorang warga yang terindikasi malaria mengucapkan terima kasih banyak kepada  Pos Pitewi karena telah membantu mengobati penyakit malaria yang sedang dideritanya.

Marthias menganggap panas deman yang ia rasakan selama 2 hari hanya sekedar sakit demam biasa, namun setelah dilakukan pemeriksaan menggunakan Rapid Diagnostic Test (RDT), ternyata Marthias menderita penyakit malaria.

“Saya kira hanya demam biasa, ternyata malaria”, tutur Marthias.

Sudah menjadi perintah dan kebijakan dari Komando atas Satgas Yonif Para Raider 501 Kostrad agar selain menjaga dan mengamankan batas Negara Republik Indonesia, kehadiran Satgas 501 Kostrad di Perbatasan juga harus mampu memberikan sesuatu yang berarti dan berdampak positif terhadap kehidupan masyarakat Perbatasan.

Disamping itu sebagai upaya membantu program pemerintah Republik Indonesia yang dicanangkan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Indonesia terbebas malaria tahun 2030. (FN)

Rekomendasi
Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.