Pasca Banjir, Warga Pertanyakan Bantuan Melimpah di PP Ar-Rosyid, Sebaliknya Untuk Warga Sangat Minim

Jember, Nusantaraterkini.com- Pasca musibah banjir bandang di Dusun Krajan Desa Bangsalsari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember pada Selasa 12 Januari kemarin, kini warga mempertanyakan bantuan yang melimpah ruah tersalurkan di pondok pesantren Ar-Rosyid, sebaliknya warga lingkungan sekitar merasakan bantuan yang diterima sangat minim.Rabu, (27/01/21).

Kondisi ini dinilai tidak adil oleh salah satu tokoh masyarakat setempat bernama Kusnan. Katanya, warga yang terdampak banjir berjumlah sekitar 18 KK sedangkan jumlah santri yang hanya 15 orang ditambah keluarga pengasuh perkiraan tidak sampai 30 orang.

Padahal, lanjutnya, baik penghuni pesantren maupun warga sekitar sama-sama menjadi korban terdampak banjir, dan sama-sama menderita kerugian materi serta non materi yang jumlahnya tidak sedikit.

“Harta benda, rumah milik warga juga sama-sama hilang serta rusak diterjang air bah setinggi 1,5 hingga 2 meter akibat sungai tugusari meluap karena hujan deras, ” ujarnya.

Kusnan mengungkapkan, setiap bantuan yang datang dari instansi pemerintah, lembaga, komunitas maupun masyarakat biasa secara berkelompok maupun perorangan, rata-rata mereka langsung masuk terlebih dahulu ke dalam pesantren.

Karena memang poskonya di sekitar lokasi pesantren.Jika ada para donatur yang ingin menyalurkan bantuan dalam bentuk apa saja ke warga terdampak maupun pesantren, bantuan rata-rata terparkir lebih dahulu di depan halaman pesantren.

Oleh karena itu, Kusnan mengeluhkan banyaknya bantuan yang disimpan digudang, seperti beras, mie instan dan lainnya, tetapi sampai saat ini belum juga dikeluarkan oleh pihak pesantren tanpa alasan yang jelas.Warga hanya diizinkan kalau mau mengambil baju bekas saja, itupun yang sudah disortir.

“Selain sembako yang masih menumpuk, di situ juga ada material bangunan seperti pasir, batu maupun semen, bahkan uang juga banyak nilainya diperkirakan puluhan juta rupiah, ” ungkap Kusnan.

Sepengetahuan Dia, pihak pesantren juga pernah memanggil warga datang ke pesantren untuk mengambil sembako berupa beras 5 kg dan mie instan 5 bungkus per KK, akan tetapi jumlahnya tidak sebanding dengan bantuan yang diterima pesantren.

“Cuma yang dipanggil itu langsung dari mobil yang dikasihkan, bantuan dari luar saja bukan ambil yang dari dalam.Kalau yang di dalam gak bisa keluar, boleh mengambil cuma baju saja yang sudah disortir oleh pihak pesantren, ” jelasnya.

Warga berkeinginan, agar bantuan itu jangan terlalu ditaruh di dalam Pesantren.”Tolong juga diperhatikan yang benar-benar terdampak. Seperti warga saya utara jembatan dan timur masjid bukan cenderung ke pondok saja, ” pungkasnya.

Sementara Imam Muqoid selaku pihak pesantren Ar-Rosyid menampik segala tuduhan tersebut. Kata Dia, semua bantuan yang sekarang di simpan di gudang pesantren murni haknya pesantren, sebab para donatur yang menyalurkan bantuan niatnya ditujukan dan ingin membantu ke pesantren bukan warga sekitar.

Namun jika ada yang memberikan bantuan untuk warga yang dititipkan di pesantren akan langsung Ia bagikan.”Kalau bantuan itu dibagikan ke warga mereka bilang, ini untuk warga segini, terus kami sebagai yang dititipi, kami panggil warga yang terdampak ke sini semua, ” katanya.

Imam juga memaparkan, jumlah santri di pesantren Ar-Rosyid berjumlah sekitar 70 hingga 100 santri, terdiri dari santri laki-laki dan perempuan.

“Material bantuan ini rencananya untuk membangun pesantren yang rusak.Yang gak kebaikan gak ada, semua kebagian, ” tegasnya. (Tahrir)

Rekomendasi

Ruangan komen telah ditutup.