Terbit : 22 Agustus, 2019 - Jam : 15:33

‘Nokhtah’ Hitam Sang Perdana Menteri di Ujung Nusantara

Loading...

‘Kocek’ terdiam di pojok ruangan kedai kopi tempat dia biasa mangkal, di seputaran Kedai Besi wilayah sebuah  kerajaan  di Ujung Nusantara, sambil nyeruput kopi pahit kegemarannya.

Kocek menanti teman akrabnya ‘Kulok’. Sudah dua jam Kocek nongkrong, dan kopi sudah dua gelas dilahapnya. Namun Kulok juga belum juga menyatroninya. “ada apa gerangan”, gumamnya dalam hati.

Rasa gelisah Kocek tak terbendung, manakala jarum jam sudah menunjukkan pukul 12:45 wib memasuki waktu zuhur dan makan siang. Kopi belum dibayar, sebab Kocek menanti Kulok berharap ada yang bayar kopi yang diminumnya.

Ada rasa heran di benak Kocek, tak seperti biasa Kulok seperti ini, sebaliknya, malah Kulok yang lebih dulu hadir di kedai kopi favorit mereka ini, “ada apa ya”, tanya Kocek dalam hati.

Tak lama Kocek bergumam dalam hati, Kulok pun tiba dengan tergopoh gopoh tak seperti biasanya santai, “hai Cek udah lamo keeh, menanti ambee”, tanya Kulok, “Adelah dua jem lebeh, adee manye keh gerangan Lok?”.

Lalu Kulok duduk dan memesan kopi dingin, “cubee ceritee keuh ke aku Lok, adee manyee sebenarnye nie”, tanya Kocek dengan bahasa melayunya yang kental. Tanpa ba…bi…bu Kulok pun menjelaskan kenapa dia datang terlambat.

Keterlambatan Kulok sangat beralasan, sebagai Timses perdana menteri pada Pemilukada dua tahun silam banyak kalangan yang mengkritisi berbagai kebijakan sang perdana menteri dianggap ‘Ambigu’, rupanya Kulok diajak rapat, terkait banyak janji perdana menteri yang tidak dipenuhinya.

“Sebenarnya aku takut Cek, berbicara ini, sebab takutnya nanti aku di ‘deep’ ndak dipakai lagi tapi aku percaya Cek sama engkau ni, janji ya jangan disebarkan”, pinta Kulok.

Berceritalah Kulok tentang janji perdana menteri yang mendasar masuk dalam visi dan misinya saat sebelum menang dan menjabat sebagai perdana menteri.

Kulok memaparkan secara detail, per item daftara janji perdana menteri. Kepada rakyat saat beliau berkampanye, dua tahun lalu.

#Raskin Ganti ke Ramos

Janji grassroots perdana menteri kepada rakyat sampai saat ini belum juga terpenuhi, padahal janji itu adalah satu strategi mendulang suara untuk memenangkan dirinya untuk menjadi perdana menteri.

Di depan publik perdana menteri mengatakan hal itu, dirinya berjanji akan menggantikan Raskin menjadi Ramos untuk masyarakat. “apalah janji janji saja, realisasi tak ada,” sambung Kocek.

#Subsidi Harga Karet dan Kelapa Sawit

Kulok melanjutkan paparannya, sampai hari ini, masyarakat sudah membongkar kebun karetnya dengan menanam komoditi lain, sebab kata Kulok, harga karet makin terpuruk dan sangat tidak menjanjikan.

Apalagi mengingat janji subsidi dari perdana menteri hanya klise dan retorika politik belaka. Tak ada perubahan kemajuan income per kapita penduduk dari sektor ini.

Kulok, merasa resah jika civil society menggelar pemerintahan jalanan, selama dua tahun perdana menteri menjabat, 5 kali berbagai elemen melakukan demo, menuntut atas janji janji politik yang dianggap isapan jempol belaka.

#Membuka Lapangan Kerja

“Aduuuuh…banyak sekali ‘Nokhtah Hitam’nya orang nomor satu ini”, sebut Kulok. Sembari melanjutkan hasil rapat nya dengan timses pagi tadi.

Membuka lapangan kerja hanya ungkapan belaka, tanpa bukti. Malah sebalik meningkatkan pengangguran, salah satu contoh sebut Kulok, pasar taman terbuka belakang alun-alun kantor bupati, yang biasa dibuka sampai pukul 22:00 wib, harus tutup pada pukul 18:00 wib, dengan alasan tempat itu dijadikan ajang maksiat.

“Inikan salah kaprah, sebab tempatnya terbuka, yang berada di ruang terbuka hijau alun-alun belakang kantor perdana menteri, bagaimana kerajaan bisa hidup ekonominya, padahal ada 45 pedagang kaki lima yang bergantung hidup dari berdagang, serta membuka peluang kerja yang sifatnya temporer dan mengurangi tingkat pengangguran yang ada”, ujar Kulok.

#Rekayasa Jalan Negara

Padahal jalan lintas negara yang menghubungkan kerajaan matahari tengelam ke kerajaan tetangga, yang sudah baik dan benar, tidak memasuki pasar kota, sebaliknya rekayasa jalan yang dibuat dengan jalur baru menimbulkan kemacetan dan terkesan semrawut, padahal dana yg dianggarkan untuk itu lumayan besar.

Padahal, sebut Kulok, blue print jalan sudah ada tinggal dilanjutkan saja, apalagi dengan jalan tersebut, truck dan bus tidak masuk lagi ke dalam kota. Jika sudah berjalan baru dibenahi permukiman kota, akan menambah nilai nilai estetikanya. Sebaliknya bukan memporak porandakan tatanan kota.

“Ini Cek, kenapa aku terlambat sampai kesini. Jadi apa yang aku ceritakan semuanya fakta, sebab dalam rapatpun itu yang didengungkan, nanti lah Cek kita sambung kecerita yang lebih dalam dan sangat menarik, tentang apa, siapa perdana menteri itu”, pungkas Kulok. (Syawaluddin)

Rekomendasi

Ruangan komen telah ditutup.