Nias Masih Panas

Protes listrik padam, berbuntut ricu
Aksi 1000 lilin,Protes Lisrik Padam

GUNUNG SITOLI, – Akhir-akhir ini kondisi pulau Nias sangat menyedihkan, pasalnya akibat ulah PT. PLN Area Nias salah satu pulau yang indah menawan di wilayah Sumatera Utara itu tak ubahnya kembali kezaman purbakala yang gelap gulita. Bagaimana tidak, sejak 1 April yang lalu pulau nias dilanda krisis listrik dan sampai saat ini masyarakat Nias secara menyeluruh hanya dihadapkan pada janji-janji manis pihak manager PT. PLN Area Nias. Tragisnya lagi, aksi spontan dari kalangan masyarakat baik dari ormas dan pihak-pihak lain yang melakukan aksi penyalaan 1000 lilin disertai acara doa bersama malah mendapat tindakan kekerasan dari pihak personil Polres Nias, padahal seperti yang kita ketahui bersama bahwa fungsi dan tugas polisi adalah melayani, melindungi dan mengayomi namun dari apa yang terjadi pada aksi tersebut pihak personil Polres Nias di indikasikan tidak menjalankan fungsinya sebagai pengayom masyarakat. Seperti yang diberitakan sebelumnya dibeberapa media online menyebutkan bahwa sikap arogan yang ditunjukkan para petugas dari polres Nias pada saat kejadian itu tak ubahnya seperti tindakan preman jalanan, hal ini dibuktikan dari pengakuan para saksi mata yang melihat langsung tindakan brutal oknum petugas saat itu. Mirisnya lagi, 8 wartawan yang berada dilokasi kejadian menjadi korban pemukulan oleh beberapa oknum petugas Polres Nias. Selain para awak media itu mendapat tindakan kekerasan dari para petugas, mereka malah ditangkap dan diboyong ke Mapolres Nias, dan informasi yang beredar saat ini mereka dijadikan sebagai tersangka oleh pihak Polres Nias. Semenjak para wartawan itu ditangkap, dikabarkan bahwa tidak seorang pun dari pihak keluarga diperbolehkan menjenguk mereka di rumah tahanan Polres Nias dan bukan hanya itu awak media pun sangat susah mendapat informasi akurat tentang keadaan dan kondisi 8 korban penangkapan tersebut.

Jumat, 8 april seharusnya menjadi hari kebahagiaan bagi para keluarga korban penangkapan tersebut, dimana Kapolres AKPB. Bazawato Zebua, SH. Yang juga merupakan putra daerah itu sendiri berjanji dihadapan ratusan masyarakat nias yang tergabung dalam Aliansi pijar Nias (API-Nias) yang melakukan aksi damai di halaman lapangan merdeka kota gunungsitoli untuk memperbolehkan pihak keluarga menjenguk para tersangka itu.

Namun anehnya, sesampainya di Mapolres Nias pihak keluarga tersebut, mendapatkan pelayanan yang sangat mengecewakan dari petugas piket di Mapolres Nias, dimana waktu berkunjung mereka diberikan tidak lebih dari 5 menit.

“Kami sangat kecewa dan kami menilai pihak Polres Nias tidak manusiawi, masa waktu berkunjung hanya diberikan 5 menit ?, Bagaimana kami bisa mengetahui keadaan mereka dan lain-lainnya pak? Selain Waktunya yang begitu singkat, ruangan itu redup dan kurang terang lebih lagi penjagaannya sangat ketat sekali, seperti teroris saja dibuat para tersangka itu”, ungkapan kecewa salah seorang pihak keluarga yang ikut menjenguk para tersangka tersebut di rumah tahanan Mapolres Nias.

Penelusuran kepihak keluarga yang lain menjelaskan bahwa para tersangka tersebut diperlakukan sangat tidak wajar. “Kami melihat di beberapa bagian tubuh mereka ada memar, dan kebiru-biruan pak, seperti bekas pukul gitu. Ungkap keluarga para tersangka. Padahal, apa salahnya pihak polisi itu memperbolehkan kami berjumpa di tempat yang agak terang, mereka kan bukan pembunuh atau terlibat teroris lantas kenapa diperlakukan demikian?” Ini merupakan bagian membunuh pergerakan para aktivis di nias pak, ya… Boleh-boleh saja saat ini mereka yang ditangkap dan menderita namun jika ini tidak dapat di usut tuntas maka pergerakan aktivis di nias ini tidak ada lagi, karna takut ditangkap dan dijadikan tersangka serta di jebloskan ke dalam penjara. Mohon pak, kami meminta keadilan atas mereka, ini sudah masuk ke kategori pelanggaran HAM, pinta pihak keluarga tersangka tersebut dengan sambil meneteskan air mata.

Semakin tertarik menelusuri kasus ini, dibeberapa media online yang bersatandar nasional menyebutkan bahwa para aktivis yang 8 orang itu tidak berprofesi sebagai wartawan. Maka dari itu, teman-teman media mencoba menghubungi salah seorang keluarga korban penangkapan tersebut dan keluarganya tersebut menerangkan bahwa salah satu diantaranya berprofesi sebagai jurnalistik. “Iya pak, benar. Salah satu diantara yang ditangkap itu adalah saudara saya dan pekerjaannya wartawan, saya sudah pernah lihat KTA (Kartu Tanda Anggota) nya.” Selain itu, Salah seorang rekan korban penangkapan itu pun membenarkan hal itu. “Setahu saya bang, salah satu diantaranya adalah wartawan dan kami pernah meliput bareng, itu saja yang saya tahu, ungkap rekan seprofesi dengan salah satu korban penangkapan tersebut. Namun berdasarkan berita yang dimuat di beberapa media online berstandar nasional, yang mengatakan para korban penangkapan itu bukan wartawan, hal itu berdasarkan informasi yang bersumber dari Kepala Satuan Reserse Polres Nias Ajun Komisaris Polisi Selamat Kurniawan Harefa yang mengatakan bahwa delapan orang tersangka tersebut terdiri dari petani, mahasiswa dan wiraswasta, bukan sebagai wartawan (Sumber: Okzone.com). Tentu saja dari pemberitaan yang berbeda ini sangat membingunkan masyarakat umum, maka dari itu teman-teman media menghimpun informasi ini, dengan menelisik dari berbagai sumber. (TIM)

Rekomendasi

Ruangan komen telah ditutup.