Terbit : 11 Juli, 2019 - Jam : 16:36

Ludruk Blitaran, Bupati Blitar Berperan Sebagai Demang Banjarsari

Loading...

BLITAR – Ribuan penonton memadati tribun Amphitheater Candi Penataran Kabupaten Blitar, Kamis (11/07/2019) malam. Mereka datang berbondong-bondong untuk menyaksikan Ludruk Blitaran yang mengambil lakon “Ragil Kuning” dengan aktor utama Bupati Blitar, Drs. H. Rijanto, MM sebagai Demang Banjarsari.

Dalam ludruk tersebut, Jajaran Forkopimda juga memerankan peran dan aktiknya masing-masing, seperti Kapolres Blitar sebagai Prabu Amiluhur, Kepala Pengadilan Negeri sebagai juru pengadil, Kepala Kejaksaan Negeri sebagai Jeksa Negari, Dandim 0808/Blitar sebagai patih, Danyonif 511/DY sebagai Manggala Yudha, Kapolres Blitar Kota sebagai Lurah Banjarsari dengan bintang tamu Lusy Brahman dari Ponorogo.

Ketika ditemui NusantaraTerkini.com, Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Blitar, Suhendro Winarso, S.STP, M.Si mengatakan, Ludruk Blitaran yang digelar malam ini mengambil lakon Ragil Kuning yang merupakan rangkaian cerita Panji.

Cerita Ragil Kuning ini menceritakan tentang Kerajaan Jenggala Kadhiri yang memiliki putra mahkota bernama Panji Asmoro Bangun yang mana punya saudari cantik jelita bernama Ragil Kuning.

Panji Asmoro Bangun yang akan menjadi putra mahkota kerajaan Jenggala benar-benar menyiapkan dirinya sebelum menjadi raja untuk melihat kehidupan masyarakat jelata dengan menyamar menjadi orang buruk rupa dan mengenalkan dirinya sebagai Entit.

Panji Asmoro Bangun yang menyamar menjadi Entit yang buruk rupa, namun hatinya baik dan seorang pekerja keras.

Suatu saat Entit bertemu dengan Ragil Kuning yang sebetulnya adiknya sendiri. Disini si Entit seakan-akan mencintai Ragil Kuning dengan maksud menguji kesetiaan adiknya dengan calonnya yang bernama Panji Gunungsari.

‚ÄúDisinilah terjadi dialog penuh intrik antara si Entit dengan Panji Gunungsari. Hingga terjadilah pertempuran antara Entit dengan Panji Gunungsari. Dan ditengah pertempuran tersebut penyamaran Panji Asmoro Bangun sebagai Entit terbongkar,” ungkap Suhendro Winarso mengakhiri alur cerita.

Dikatakanya, Ludruk ini merupakan persembahan Forkopimda dan Bupati Blitar untuk membangkitkan ludruk Blitaran, ludruk merupakan kesenian rakyat yang pernah populer dan diharapkan bisa nostalgia atau mengulang sehingga bisa dinikmati kembali oleh masyarakat.

“Diharapkan kesenian ludruk bisa berkembang, semakin digemari masyarakat, selain itu memang media seni semacam ini kedekatan pemimpin dengan rakyat semakin nyata, tentu juga sebagai media informasi untuk menyampaikan program-program pemerintah, supaya masyarakat betul-betul memiliki Blitar ini,” tutupnya. (Rid)

Rekomendasi

Ruangan komen telah ditutup.