Laut Butur Sering Dibom, Nelayan dan Pemancing Gigit Jari

Butur- Penangkap ikan dengan cara dibom masih sangat marak di perairan Kabupaten Buton Utara (Butur) khususnya di daerah Kulisusu Utara. Aktivitas ilegal tersebut merugikan bagi nelayan yang menggunakan cara tangkap tradisional, Juga dapat merusak ekosistem laut.

Hal ini di keluhkan oleh Ruli Fadli Warga Kecamatan Kulisusu, Keberadaan pengebom ikan sangat meresahkan Nelayan dan para pemancing. Karena selain ikan yang habis karena di bom ekosistem terumbu karang pun ikut rusak.

”setelah maraknya pengeboman ikan memancing pun sekarang sangat susah mendapatkan ikan, hari ini saya memancing mulai dari subuh sampai siang tidak ada hasil sama sekali,” Kata Ruli sapaan akrabnya saat diwawancarai. Rabu (30/12/20).

Lanjutnya boleh cek diperairan wilayah kulisusu Utara, banyak sekali ikan kecil yang sudah mati karena bom ikan dan dibiarkan begitu saja.

“hasil dari pengeboman tersebut yang mereka ambil hanya yang besar, kalau yang kecil pasti dibiarkan begitu saja sampai membusuk ditengah laut,” ungkap anggota Butur Fishing Club tersebut.

Dia berharap polisi menindak tegas para pengguna bom ikan, Sebab nelayan tradisional menjadi korban. Mata pencaharian laut nelayan setempat terganggu dengan aktivitas ilegal tersebut.

”secara pribadi ataupun mewakili BFC saya berharap agar pihak kepolisian segera menindak ataupun menangkap oknum pelaku pengeboman ikan,” keluhnya.

Sementara itu Sofyan warga kulisusu utara yang juga merupakan seorang nelayan menjelaskan, hasil laut saat ini sudah susah karena adanya aksi pengeboman ikan.

“kami yang menangkap ikan dengan cara tradisional sekarang hanya bisa gigit jari,  karena hasil tangkapan sangat minim,” ujarnya.

Padahal dulu hasil ikan di wilayah perairan laut kulisusu utara sangat melimpah, dibandingkan dengan sekarang sudah sangat susah.

“saya cuman berharap agar Kepolisan bisa menangkap pelaku pengeboman dan menindak tegas, karena laut adalah tempat mencari kehidupan kami, apa lagi ditambah dengan situasi pandemi Covid-19,” pungkasnya.

(Giyan)

Rekomendasi
Loading...

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.