Ayo Gabung, Menjadi Jurnalis Profesional, di Seluruh Indonesia, Kontak : 082279249494

Kuasa Hukum Frantinus: Tak Ada Kata Bom, Pramugari dan Pilot Harus Diperiksa

NusantaraTerkini.Com, Jayapura – Publik di Indonesia sempat heboh dengan peristiwa dalam pesawat  Lion Air JT687 di Bandara Internasional Supadio Senin (28/5/18) lalu yang melibatkan mahasiswa asal Papua Frantinus Nirigi.

Terkait hal ini kuasa hukum tersangka Frederika Korain dan Aloysius Renwarin serta dua kuasa hukum lainnya dengan tegas mengatakan bahwa Frantinus sama sekali tak mengeluarkan kata bom.

Kuasa Hukum Frantinus juga meminta pramugari, pilot dan security diperiksa penyidik. Pasalnya hingga kini dikatakan belum ada pemeriksaan terhadap pramugari tersebut demi kejelasan kasus ini.

“Kami penasehat hukum menyerahkan sepenuhnya proses hukum tersebut kepada Penyidik Pengawai Negeri Sipil Kementrian Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara supaya berjalan dengan baik untuk menemukan kebenaran yang sebenarnya. Dan kami meminta kepada penyidik supaya memeriksa Pramugari pesawat yan mengumumumkan perkataan tersebut,” jelasnya dalam jumpa Pers dengan wartawan se Jayapura, Selasa (12/6) sore.

Sementara soal pengakuan Frantinus yang viral di medsos dan Youtube, pihak kuasa hukum mengklarifikasi bahwa hal itu disampaikan tersangka atas perintah  penasehat hukum sebelumnya dengan redaksi yang diketik penasehat hukum.

Belum diketahui maksud dari perintah pengakuan oleh kuasa hukum sebelumnya tersebut, namun disampaikan pengakuan itu dilakukan dengan tujuan meredam pemberitaan

“Kronologis saat itu, Frantinus melihat pramugari mendorong tasnya yang berisikan 3 leptop dengan keras ke dalam bagasi kabin, lalu dia spontan mengeluarkan kata-kata ‘awas bu ada 3 leptop dalam tas saya.’ Setelah pramugari menjawan dengan kata-kata ‘jangan bercanda’ Frantinus selanjut meminta maaf,”  jelas Frederika Korain.

Lanjut Frederika setelah pramugari berjalan ke depan datang security pesawat yang kemudian menyuruh Frantinus keluar ke lorong penyambung pesawat lalu diperiksa tas miliknya.

“Setelah diperiksa, Frantinus disuruh kembali ke dalam pesawat dan memasukan  tas ke dalam kabin kembali dan duduk dikursi,” jelasnya lagi.

“Pramugari membuat pengumuman sebanyak 3 kali, pengumuman  pertama dan ke dua, itu minta penumpang keluar lewat pintu depan, dan ketika pengumuman ke tiga pramugari meminta penumpang meninggalkan pesawat karena diduga ada penumpang yang membawa bahan cepat meledak di dalam pesawat,” tambah Frederika menceritakan apa sebenarnya yang membuat penumpang panik hingga keluar bahkan  melompat dari sayap pesawat.

Sementara kuasa hukum tersangka lainnya,  Aloysius Renwarin mengatakan ada indikasi penyelamatan pihak-pihak lain dalam proses hukum tersebut.

“Yang membuat penumpang panik itu bukan karena ucapan tersangka  tetapi pada saat pramugari menyampaikan pengumuman yang bunyinya diduga  ‘penumpang membawa bahan cepat meledak,” ujarnya.

Pihaknya juga meminta media dan publik di Papua mendukung Frantinus karena tak melakukan hal tersebut. (FN)

Redomendasi
Comments
Loading...