Wartawan Nusantaraterkini.com Terdaftar di Box Redaksi, Untuk Bergabung menjadi wartawan seluruh indonesia Hubungi : +62 822-8273-3432

Konflik Petani Dan Petambak Di Jember, Ibarat Buah Simalakama

Loading...

Jember- Ratusan warga yang berasal dari dua kelompok petani yang sedang berkonflik, berbondong-bondong mendatangi Kantor Desa Mayangan Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember guna mencari titik temu terkait pro dan kontra dibukanya dua pintu tanggul penahan air laut atau kelep Kalimalang.Rabu (15/7).

Mereka adalah kelompok petani palawija dan kelompok petani tambak Desa Mayangan.Keduanya yang bertolak belakang kepentingan, sama-sama berebut ingin memanfaatkan fungsi dari kelep peninggalan kolonial Belanda, yang sejak awal pembangunannya memang difungsikan sebagai penahan air laut, sehingga ketika laut pasang datang, air asin tidak sampai masuk ke sungai lantas mengalir ke areal pertanian.

Dalam persoalan ini, petani palawija menuntut agar pintu kelep ditutup kembali seperti sedia kala.Sebab jika pintu kelep tetap di buka, bisa berakibat matinya ratusan hektar tanaman palawija milik warga petani yang disebabkan oleh masuknya air asin menuju ke lahan pertanian.

Sebaliknya, petani tambak ingin agar pintu kelep tetap dibuka saja.Agar petani tambak yang memang membutuhkan air asin untuk budi daya udang panami, bisa terpenuhi pasokan airnya.

Ibarat makan buah simalakama, jika pintu kelep dibuka air laut akan membanjiri lahan pertanian dan akan menyebabkan kematian pada tanaman petani, sedangkan jika pintu kelep ditutup,petani tambak tidak bisa budi daya ikan dan udang, karena tidak ada pasokan air asin yang bersumber dari lautan.

Tampak pertemuan dua kelompok ini berjalan sangat alot.Sesekali diwarnai perdebatan sengit dan adu argumen dari masing-masing kelompok demi mempertahankan kepentingan masing-masing.Alhasil pertemuan yang difasilitasi pihak Muspika Gumukmas dan Dinas terkait berakhir deadlock tanpa menghasilkan apa-apa.

H.Said salah satu Petani Tambak usai acara menyampaikan, Ia ingin semua kepentingan baik itu petani tambak maupun petani palawija, semua diakomodir oleh pemerintah.Katanya, jangan hanya salah satu, karena ini titik-titik perpecahan dan akan menjadi permasalahan besar kalau tidak segera diatasi.

“Kita sebagai petani juga memiliki harapan yang besar, memiliki cita-cita yang besar dari pertanian kami, kami juga mempertahankan kelangsungan hidup kami kedepan.Anak-anak kami juga ingin sekolah, masa depan kami sebagai petani bagaimana, tolong itu sama-sama diperhatikan, ” ujar Said.

Said memaparkan, sebenarnya awal mula dibangun kelep oleh Kolonial Belanda dahulu, guna untuk penahan air laut agar tidak masuk ke kawasan pertanian.Namun seiring perkembangan jaman, ada sebagian petani palawija yang berpindah profesi menjadi petambak dan baru kemudian muncul permasalahan.

“Jadi sebenarnya kelep itu awalnya gak ada masalah, ketika ada sekelompok petani yang beralih profesi menjadi petambak maka mereka membutuhkan air asin, maka terjadilah konflik antara petani dan petambak, ” tambahnya.

Ketika kelep berfungsi secara penuh untuk kepentingan pertanian, akhirnya menjadi masalah bagi petani tambak.Tapi ketika petambak membutuhkan fungsi kelep karena membutuhkan air asin, maka jadi masalah bagi petani palawija.

“Dan selama ini bagi kita dengan adanya dibukanya kelep itu juga masalah, karena air asin itu masuk ke areal sawah kami.Berulang kali menanam padi atau pun jagung itu mati, jadi permasalahanya disitu, ” terang Said.

Katanya, arahan dari muspika sebenarnya kita harus mencari solusi terbaik antara kedua kepentingan, sehingga petambak jalan petani pun melakukan usahanya juga tidak ada masalah.

“Cuma permasalahannya sekarang mencari titik temunya itu menjadi masalah, karena masing-masing kita menghendaki kepentingannya yang lebih diutamakan, ” katanya.

Permasalahan ini, lanjutnya, bukan berhenti sebatas kelep saja, konflik kepentingan dua kelompok warga yang sudah berjalan selama bertahun-tahun belum ditemukan titik terang jalan tengah, semakin diperparah dengan jebolnya sungai tanggul yang terjadi tahun lalu yang hingga kini tidak segera diatasi.

“Sehingga air asin masuk, suplay air tawar yang dari hulu tidak pernah ada, padahal air tawar itu sangat dibutuhkan bagi para petani, ” ucapnya.

Said berharap normalisasi segera terwujud, sehingga kebutuhan air tawar untuk petani yang dari tanggul bisa masuk, tanggul kelep pun bisa segera ada solusi walaupun tidak ditutup total.Sehingga air asin dan air tawar bisa masuk secara teratur sesuai kebutuhan ke masing-masing lahan milik petani maupun petambak.

Sementara, Chandra dari petani tambak mengatakan, sebagai penambak justru ia ingin kelep supaya dibuka, agar ada pembangunan ke depannya. Chandra mengaku sempat disuruh membuat proposal oleh Camat. Tapi, setelah proposalnya selesai, dirinya justru di pingpong dengan alasan aliran sungai kewenangannya nasional.

Proposal tersebut, sambung Chandra, untuk diajukan ke PT Delta Guna Sukses. Dirinya meminta pihak PT Delta Guna Sukses supaya mendanai pembangunan kelep tersebut seratus persen. Namun, pihak perusahaan minta proposal sementara Camat enggan membubuhkan tanda tangannya.

“Kami lalu bertanya-tanya ada apa ini. Sementara PT Delta menginginkan harus ada proposal masuk baru bisa menggelontarkan dana, sekitar 400 juta sekitan yang kita ajukan, ” jelas Chandra.

Katanya, kita membutuhkan untuk pembangunan di empat titik, bila begini sampai ganti camat empat kali sekali pun tidak akan selesai. Kalau penyekatan itu terwujudkan sangat menguntungkan bagi petani tambak dan palawija, sebab tanggul kelep itu tidak ada lumpur lagi dan langsung terbuang ke laut,” terangnya.

Chandra menjelaskan, selama ini akan menimbulkan masalah bila kelep ditutup, sebab ada pembuangan limbah di wilayahnya.

Sekcam Kecamatan Gumukmas, Sudarsono menyampaikan bahwa pertemua hari ini belum menemukan satu kesepakatan yang bersifat final dan Danramil sudah memberikan solusi yang dapat dianggap paling solutif.

“Kita tidak berpihak kepada siapapun, kami memikirkan masyarakat secara keseluruhan baik petani palawija, petani tambak maupun pengusaha,” klaimnya.

Sudarsono berpendapat bahwa persoalan ini juga karena factor unsur alam akibat jebolnya tanggul sehingga sulitnya petani palawija mendapatkan air tawar kemudian rembesnya air laut sehingga merusak tanaman, pihak tambak pun menuntut kekurangan air laut, dan dua kepentingan ini saling berlawanan.

“Solusi dari Danramil, kelep yang sudah ditutup itu agar dibuka satu saja sambil lalu membangun sekatan, walaupun tidak semua menerima kami anggap itu solusi paling tepat,” ucapnya.(tahrir)

Rekomendasi

Ruangan komen telah ditutup.