Kodam Cenderawasih Kembali Bantah Isu Soal Kondisi Kenyam

NusantaraTerkini.Com, Papua – Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi kembali membantah berbagai isu yang berkembang di media sosial tentang kondisi Kenyam, Nduga Papua.

Ia juga meluruskan informasi bahwa adanya masyarakat yg lari mengungsi ke hutan yang menurutnya hal itu tidak benar.

“Karena di Kenyam, Nduga saat ini situasi kondusif, aktifitas masyarakat normal, mama-mama dan pemilik toko sudah mulai buka kios dan jualan sejak lama.

Yang dimaksud masyarakat ke hutan adalah masyarakat yang berasal dari Distrik Yuguru, Paro, Mugi dan Mapenduma yang akan pulang dari Kenyam ke kampungnya masing-masing dengan jalan kaki melewati hutan karena tidak ada dukungan pesawat. Waktu tempuh bervariasi sesuai dengan jarak antara 1 sampai 3 hari, hal tersebut sudah menjadi kebiasaan masyarakat Nduga selama ini, makanya masyarakat Nduga sangat berharap agar jalan Trans Papua yang menghubungkan Wamena-Nduga dan melintasi Distrik Yuguru, Paro, Mapenduma, Yigi dam Mbua dapat segera dioperasionalkan,” jelas Aidi panjang lebar, Selasa (17/7).

Selain itu info tentang adanya masyarakat Toraja yang ke pelabuhan Pomako Timika, setelah pihaknya konfirmasi dengan Pemda dan aparat keamanan di Nduga bahwa mereka bukan dari Kenyam tapi dari Agast, Asmat.

“Karena sejak peristiwa pembantaian masyarakat di Kenyam belum pernah lagi ada kapal yg masuk termasuk yg berangkat dari pelabuhan Batas batu. Kapal terakhir adalah kapal yang difasilitas Pemda berangkat dari pelabuhan Batas Batu pada tanggal 11 Juni 2018 untuk mengangkut masyarakat ke Timika dan ke Agast termasuk istri dan anaknya Pak Bupati. Hingga saat ini belum ada kapal yang berani masuk ke Nduga,” tandasnya.

Kodam Cenderawasih juga menyayangkan
pernyataan berbagai pihak yang awalnya diam saat ada penembakan berturut-turut dan pembantaian warga sipil oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Tetapi kemudian angkat suara dan berkoar-koar di media ketika aparat melakukan penindakan hukum demi tegaknya kedaulatan dan kewibawaan negara.

“Sekali lagi saya tegaskan tidak ada penggunaan Helly milik TNI, baik milik TNI AD, AU, AL yang beroperasi di Nduga hingga saat ini, baik utk kegiatan admistrasi/pendorongan logistik apalagi untuk serbuan dan pengeboman.

Kejadian tanggal 11 Juli yang lalu adalah 1 unit Helly milik Polairut yang bertugas untuk mengangkut logistik dari Timika ke Kenyam namun pada saat akan landing di bandara Kenyam mendapatkan serangan tembakan dari arah Aluguru sehingga anggota Brimob yang mengawal di pesawat membalas tembakan dari atas pesawat dibantu oleh aparat kepolisian yang sedang melaksanakan pengamanan di darat,” tambah Kapendam.

Akibat insiden tersebut tidak diketahui apakah ada jatuh korban atau tidak dari pihak penyerang, karena aparat keamanan tidak melaksanakan pengejaran lanjutan.

Sebelumnya telah dilaksanakan pertemuan dan rapat antara pihak TNI, Polri dan Pemda Nduga dengan menyatakan bahwa Aluguru adalah tempat yang dijadikan Markas oleh KKSB yang berkumpul dari berbagai kelompok.

Dalam rapat tersebut juga disepakati bahwa akan dilaksanakan penindakan dan penegakan hukum dengan mengedepankan tindakan polisioner, sedangkan aparat TNI tetap melaksanakan pembinaan wilayah, namun secara insidentil apabila dipandang perlu pasukan TNI akan bergerak terhadap sasaran terpilih. (FN)

Rekomendasi
Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.