Ketika Siti Soendari Dilirik Menteri

Nusantaraterkini.com (Lumajang) – Wanawisata Siti Soendari, di Desa Burno, Kecamatan Senduro, menyedot perhatian seusai mendapat kunjungan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, Sabtu (27/2/2021). Rombongan Menteri LHK tersebut didampingi Anggota DPR, Hasan Aminuddin dan diterima dengan hangat jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Kabupaten Lumajang, diantaranya Bupati, Thoriqul Haq beserta Wakil Bupati, Indah Amperawati, dan Kelompok Tani Hutan (KTH)  Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wono Lestari selaku pengelola Siti Soendari.

Deddy Hermansjah (49), inisiator Siti Soendari, Senin (1/3/2021) menerangkan kunjungan Menteri LHK bertujuan melihat langsung fakta pelaksanaan dan manfaat program perhutanan sosial di Lumajang. Deddy, begitu sapaan akrabnya, mengatakan ada beberapa program prioritas yang dikembangkan dalam Perhutanan Sosial, antara lain penguatan program agrosilvotastura, yaitu pengelolaan kawasan hutan yang menjadi nilai tambah produksi pertanian dan peternakan. Selain itu menurutnya ada juga pengembangan wisata di kawasan hutan yang saling terkoneksi sebagai penambah potensi ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan dan mendukung hasil olahan pertanian di kawasan hutan agar memiliki daya saing kualitas produksi dan akses pasar. Ia menyatakan model kemitraan harus terjalin antara masyarakat yang mengelola lahan di kawasan hutan dengan dunia usaha.

“Penjelasan pabrik susu Neslte setiap bulan mengeluarkan uang Rp 6 milyar untuk membeli susu hasil peternakan sapi perah di Desa Burno dan sekitarnya. Itu artinya, satu bidang produksi telah nyata menjadi kekuatan ekonomi riil bagi masyarakat. Kedepan harus diperluas dan ditiru, supaya manfaat ekonominya lebih banyak lagi dirasakan masyarakat,” bebernya. 

Laki-laki yang menjabat sebagai Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Raja Giri ini menuturkan pengembangan wanawisata Siti Soendari bisa dilaksanakan setelah KTH LMDH Wono Lestari menerima Surat Keputusan (SK) Perhutanan Sosial dengan skema Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Kehutanan (Kulin KK). Namun Deddy juga menjelaskan sejumlah kewajiban pemegang izin Perhutanan Sosial, antara lain melakukan penanaman, pemeliharaan, mempertahankan fungsi hutan, dan perlindungan hutan.

Deddy berpendapat Kabupaten Lumajang bukanlah daerah yang memiliki kawasan industri dan pelabuhan sebagai akses distribusi ekonomi. Dia menggambarkan kondisi Lumajang adalah daerah dengan 33% kawasan hutan negara dan 32% hutan rakyat. Maka potensi sumber daya hutan tersebut menurutnya harus digarap dengan inovasi agar bermanfaat nyata untuk kesejahteraan rakyat.

Ide membuka Siti Soendari kata Deddy sudah dirintis sejak tahun 2009, tetapi upaya yang sudah dilakukan pada perjalanannya belum membuahkan hasil. Kemudian pertengahan tahun 2017, KTH LMDH Wono Lestari mulai menyusun konsep menyelaraskan fungsi kawasan hutan dalam perspektif ekologi, sosial, dan ekonomi. Deddy dan rekan KTH LMDH Wono Lestari bersyukur pertengahan bulai Mei tahun 2020 usaha mewujudkan semua ide dan gagasan pengembangan wanawisata Siti Soendari berjalan lancar.

“Sampai dengan hari ini, masih berjalan sekitar 60%, masih banyak fasilitas dan wahana wisata yang akan kami usahakan untuk mempercantik Siti Soendari. Kawasan hutan yang disepakati untuk Siti Soendari seluas 9,8 hektar,” ujarnya.

Deddy menceritakan nama Siti Soendari berawal dari pengalaman spiritual seorang tokoh di Desa Burno yang dialaminya sendiri sekitar tahun 2007, sehingga sejak saat itu blok kawasan hutan tersebut kita sepakati bernama Siti Soendari. Awalnya kata Deddy hanya untuk memudahkan bertemu untuk melaksanakan kegiatan di hutan, seiring berjalannya waktu nama Siti Soendari menjadi populer hingga saat ini.

“Dewi Siti  Soendari adalah putri Bathara Wisnu dengan Dewi Pratiwi, putri Prabu Nagaraja dari kerajaan Sumur Jalatunda. Ketika Bathara Wisnu turun ke Arcapada menitis ke Raja Negara Dwarawati, Prabu Kresna, kemudian Dewi Siti Soendari menyusul turun ke Arcapada dan diakui sebagai putri Prabu Kresna. Dewi Siti Soendari mempunyai sifat perwatakan baik budi, sabar, setia dan sangat berbakti. Selanjutnya Dewi Siti Soendari menikah dengan Abimanyu, putra Arjuna dengan Dewi Sumbandra, adik Prabu Kresna. Dalam pernikahan tersebut, mereka tidak dikaruniai anak,” jelasnya.

Deddy menerangkan Siti Soendari buka setiap hari mulai pagi sampai malam hari. Dirinya mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pemangku kepentingan untuk melakukan pengembangan kedepannya. Ia menegaskan masyarakat punya hak atas lingkungan hidup yang sehat.

“Kita mau udara yang bebas polusi dan sungai-sungai mengalir jernih tidak membawa banjir. Kita ingin laut dan hamparan pesisirnya tetap indah dan menjadi tumpuan hidup para nelayan dan keluarganya. Kita juga mau hutan-hutan tropis di Kabupaten Lumajang terjaga sebagai rumah bagi flora dan fauna, serta sebagai sumber kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya,” pungkasnya.

Wakil Bupati Lumajang, Indah Amperawati, Sabtu (27/2/2021) memberikan apresiasi positif hadirnya Siti Soendari yang merupakan bagian dari Perhutanan Sosial melibatkan masyarakat memanfaatkan lahan Perhutani untuk kesejahteraan dan meningkatkan pendapatan. Bunda Indah, begitu populer disapa, berharap semua hutan negara dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk masyarakat sekitar. (Fajar Yudha Wardhana)

 

Rekomendasi

Ruangan komen telah ditutup.