Wartawan Nusantaraterkini.com Terdaftar di Box Redaksi, Untuk Bergabung menjadi wartawan seluruh indonesia Hubungi : +62 822-8273-3432

Kepala Desa di Balung Terlibat Dugaan Surat Rapid Tes Palsu, Kasusnya Berusaha Ditutupi

Loading...

Kabar kasus dugaan pemalsuan surat ‘Rapid Tes’ di Kecamatan Balung Kabupaten Jember yang kini ramai jadi perbincangan warga, tidak menutup kemungkinan terbukti kebenaranya.

Pasalnya wartawan nusantaraterkini.com telah konfirmasi langsung terkait kasus ini dengan menemui kepala Puskesmas Balung dr.Roszania Hidayat maupun Kapolsek Balung AKP Miftahul Huda SH.Alhasil keduanya tidak membantah adanya kabar tersebut.Kamis, (27/8).

Informasi yang berhasil dihimpun, surat rapid tes diduga palsu diketahui berkop, Pemerintah kabupaten Jember Dinas Kesehatan Puskesmas Balung, tertanggal 13-7-2020 serta tidak tercantum nomor registrasi.

Surat tersebut atas nama Nanang Supriyadi, alamat krajan Rt 001/006 Balung Lor.sedangkan dibawah tertera tanda tangan dan stempel Dokter Pemeriksa atas nama dr.Roszania Hidayat.

Diperoleh informasi, jika Petugas Polsek Balung juga telah menerima pengaduan dari pihak Puskesmas Balung selaku pelapor serta memanggil orang yang terlibat dalam perkara ini untuk klarifikasi dan diambil keterangannya.Hanya saja, kasus dugaan pemalsuan rapid tes yang kemudian di duga kuat menyeret nama salah satu Kepala Desa di Kecamatan Balung sebagai pelaku utama seolah berusaha ditutupi.

Kepala Puskesmas Kecamatan Balung dr.Roszania Hidayat, saat dikonfirmasi, Selasa (25/08), membenarkan adanya dugaan keterlibatan salah satu Kepala Desa di Kecamatan Balung dalam kasus dugaan pemalsuan surat rapit tes yang bertanda tangan dan diakuinya atas nama mirip dirinya.Hanya saja, Ia enggan berkomentar banyak, sebab bagi Dia kasus ini tidak perlu di beritakan melalui media massa karena dianggap sudah selesai.

“Ini juga apa ya, dari pihak desa juga sudah melakukan pendekatan, kita juga sudah tidak mempermasalahkan hal itu juga, ” ujar Roszania.

Roszania berdalih, Puskesmas Balung telah menyelesaikan permasalahan ini secara baik-baik dengan Pihak Kepala Desa dan sudah menemui dirinya.Ia juga membenarkan, jika pihaknya sudah mendatangi Mapolsek Balung untuk laporan pengaduan perihal dugaan pemalsuan surat rapid tes.

Demikian pula dengan Kapolsek Balung, AKP Miftakhul Huda SH, juga tidak membantah ketika di konfirmasi hal ini.Huda mengaku kesulitan untuk menindaklanjuti penyelidikan kasus ini.Katanya, hingga saat ini polisi hanya menerima bukti berupa foto elektronik.Anehnya, Huda buru-buru meninggalkan tempat saat awak media hendak bertanya lebih jauh.

Kronologi adanya surat Rapid Tes ‘palsu tersebut berawal, ketika salah seorang Ketua RT di Desa Balung Lor berinisial LN mengantar warganya membuat surat jalan yang hendak ke Bali.

Waktu itu, LN mengurus surat jalan dengan pihak yang bersangkutan, namanya Tohir, ketua tukang di Bali. Lebih lanjut LN menjelaskan, ternyata di situ dia buat surat jalan 8 orang termasuk Tohir.

“Saya berangkat ke Kantor Desa buat surat itu, setelah buat surat saya minta tanda tangan Kepala Desa. Saat minta tanda tangan saya ditanya oleh Kepala Desa,” katanya.

“Apakah yang berangkat ke Bali ini, sudah Rapid Tes?” Kata LN menirukan pertanyaan Kepala Desa. LN bilang kalau belum dan waktu itu ada Tohir.

Kepala Desa menawarkan Surat Rapid Tes, sepengetahuan LN Rapid Tes perlu di tes dulu darahnya. Namun, Kepala Desa menjawab bahwa itu tidak perlu dilakukan.

Kemudian LN bertanya bagaimana caranya? Kata Kepala Desa cukup mengumpulkan foto copy KTP, Tohir turut bertanya desa lainnya bisa apa tidak, Kepala Desa menjawabnya bisa.

LN bertanya, itu asli apa tidak, di Bali tidak kembali lagi kan? Kata Kepala Desa tidak perlu kuatir, itu asli. Bahkan bila ada persoalan Kepala Desa menegaskan akan bertanggung jawab, asalkan ketika sampai Bali tidak masuk dan suratnya ada.
Kepala Desa mau mengganti uangnya.

LN tanyakan ke Tohir, bagaimana? Dia menjawab asal tidak bermasalah, tidak apa-apa. Kemudian LN tanya berapa anggarannya? Kata Kepala Desa hanya Rp. 100.000 per surat.

Kemudian Tohir mengumpulkan Foto Copy KTP anak buahnya. Keesokan harinya, LN ke kantor desa untuk mengantarkan Foto Copy KTP, totalnya 14. Dan, waktu itu yang memberikan uangnya Tohir sendiri, diterima oleh Kepala Desa sendiri

“Saya menyerahkan KTP sekitar pukul 09.00 selesainya kata Kepala Desa jam 13.00. Saat hendak pulang, oleh Tohir saya diajak makan dan dibelikan rokok 1 bungkus serta uang Rp. 50.000,” ucapnya

LN tidak minta waktu itu. Bahkan, LN tidak tau secara pasti surat itu asli atau bukan, ia hanya percaya bahwa Kepala Desa sudah mengatakan surat itu asli.

Setelah jam 01.00, LN dan Tohir mengambil suratnya dan diterima langsung oleh Tohir. Setelah 4 hari, warga bernama Nanang ke rumah LN, minta dibuatkan surat pengantar dan surat jalan, dia juga hendak berangkat ke Bali.

“Karena 14 orang yang berangkat ke Bali itu aman, sehingga saya tawarkan ke Nanang surat tugas yang dari Pak Kades,” tuturnya.

Saat mengurus surat pengantar dan surat jalan LN langsung diberi uang oleh Nanang Rp. 150.000, “Berhubung surat rapid tesnya 100 ribu, kata Nanang yang 50 buat saya,” kata LN.

Singkat cerita, surat Rapid Tes Nanang diketahui palsu. Dan, malam-malam LN ditemui Kepala menyampaikan bahwa surat milik Nanang ‘palsu’.

LN bingung sebab Kepala Desa mendesaknya supaya mengakui bahwa surat Rapid Tes tersebut dirinya yang membuat, “Kok bisa pak, orang saya handphone saja tidak bisa apalagi buat surat,” ucap LN.

LN menolak permintaan Kepala Desa, namun dia justru didesak agar minggat, “Pagi-pagi Pak Kades datang ke rumah saya, dia bilang kalau hari ini saya harus pergi,” tutur LN.

Kepala Desa menjelaskan bahwa bila LN tidak pergi akan dipegang, namun demikian LN sampaikan bila dipenjara satu maka akan dipenjara semuanya.

Akhirnya, LN luluh dan pergi ke rumah saudaranya di daerah kota Jember. Seminggu berlalu, LN mendapat kabar bahwa dirinya mendapat surat panggilan dari Polsek Balung.

Saat itu, LN mendapat musibah anaknya sedang sakit. Oleh sebab itu, LN mendesak Kepala Desa ingin pulang, namun Kepala Desa melarangnya, anaknya oleh Kepala Desa akan dibantu.

Panggilan pertama dari Polsek Balung LN tidak hadir, “Saya bilang ke Pak Kades tolong pak jangan sampai ada panggilan lagi biar istri saya tidak bingung,” tuturnya.

Namun demikian berselang sebulan LN kembali mendapat panggilan dari Polsek Balung. Atas dasar itulah, LN pulang dan lebih memilih memenuhi panggilan Polsek Balung.

Sementara wartawan nusantaraterkini.com mencoba menemui kepala desa yang bersangkutan di kantornya, namun hasilnya nihil.Salah satu staf kantor mengatakan, jika Kepala Desa sedang keluar.

Kemudian dihubungi melalui sambungan telepon, kepala desa menjawab, belum bisa dikonfirmasi karena sedang sibuk rapat.(Tahrir)

Rekomendasi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.