Terbit : 6 Desember, 2019 - Jam : 09:52

Kematian Penyu dan Ikan Bukan Ulah PLTU, Warga : Ada Tukang Fitnah

Kematian Penyu dan Ikan Bukan Ulah PLTU
//Warga: Ada Tukang Fitnah

BENGKULU, – Kematian sejumlah penyu dan ikan yang terjadi di Pembangkit Listrik
Tenaga Uap (PLTU) Bengkulu bukanlah akibat dari aktivitas operasi yang dilakukan.
Bahkan berdasarkan hasil laboratorium yang telah dilakukan oleh Dinas
Lingkungan Hidup Provinsi Bengkulu pada 21 November 2019 menunjukkan outlet
air disaluran pembuangan masih memenuhi baku mutu air dengan parameter ph
8,32, suhu air 35℃, dan Dhl 13,5 ms.

Health, Safety, and Environment (HSE) Enginer PT Tenaga Listrik Bengkulu, Zulhelmi
Burhan mengatakan, tidak hanya dari hasil laboratorium yang disampaikan oleh
Dinas LHK Provinsi Bengkulu, bahkan pihaknya juga rutin melakukan uji air bahang
disaluran pembuangan. Terbukti tidak ada senyawa kimia berbahaya yang
dibuang di saluran pembuangan air bahang.
“Kalau memang saluran pembuangan air tidak mengandung zat berbahaya dan
mematikan, kalau mematikan tidak mungkin ikan-ikan kecil hidup di area
pembuangan air bahang,” kata Zul,

Ia mengaku, pihaknya tidak dapat berkomentar lebih terkait matinya sejumlah
penyu dan ikan yang ditemukan di area PLTU. Untuk saat ini pihaknya masih
menunggu hasil laboratorium yang dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya
Alam (BKSDA) Provinsi Bengkulu. Meski begitu, Ia meyakini kematian penyu dan ikan
tersebut bukan akibat dari aktivitas operasi PLTU.
“Untuk saat ini kita tunggu saja hasil lab dari BKSDA Provinsi Bengkulu, tapi kami yakin
itu bukan disebabkan oleh PLTU,” tutupnya.

Sementara itu, Warga RT 14 Kelurahan Teluk Sepang Kota Bengkulu, Gimin
mengaku, aktivitas operasi PLTU diyakininya tidak memberikan dampak yang buruk
kepada masyarakat dan lingkungan sekitar. Bahkan semenjak beroperasi belum
ditemukan satupun warga Teluk Sepang yang mengalami permasalahan
kesehatan.
“Sejauh ini tidak ada mas, kalau ada itu mungkin bukan gara-gara PLTU tapi karena
biasa kerja di Stockpile Batubara di sekitar sini,” tuturnya.

Menanggapi kematian sejumlah Penyu dan Ikan di sekitar area pembuangan air
bahang milik PLTU, Gimin mengaku sudah sejak 2005 lalu dirinya selalu menemukan
penyu dan ikan yang mati di Pantai Teluk Sepang. Kematian tersebut kemungkinan
disebabkan akibat aktivitas nelayan yang memasang jaring panjang ditengah laut.
“Penyu dan ikan mati karena terkena jaring nelayan, setelah mati kemudian
terdampar ke daratan, selain itu penyu juga bisa mati karena tidak bisa
membalikkan tubuhnya akibat gelombang pantai yang tinggi,” ujar Gimin.

Tidak hanya itu, Gimin menilai, jika penyu dan ikan mati akibat aktivitas PLTU, maka
harusnya tidak hanya penyu dan ikan saja yang ditemukan disana. Lebih lagi Ia
mengaku, banyak ditemukan disana adalah ikan dengan ukuran yang tidak kecil
tetapi besar. Ia mengaku, kematian Penyu dan Ikan ini adalah akibat ada orang
yang tidak senang dengan PLTU Bengkulu. Sehingga dengan sengaja membuang
bangkai penyu dan ikan disana.
“Ini pasti ada orang yang mencoba memfitnah PLTU, kalau memang pembuangan
air bahang PLTU mematikan tidak mungkin ikan banyak disekitar area itu,” tutupnya.

Sementara itu, Warga Teluk Sepang Kota Bengkulu lainnya, Nurhayati mengatakan,
kematian penyu dan ikan memang disengaja dan direkayasa oleh oknum yang
tidak senang dengan keberadaan PLTU Bengkulu. Kemungkinan penyu memang
sengaja dibunuh dan ikan memang sengaja diadakan dan dibeli dari sejumlah
nelayan.
“Kami yakin memang ada tukang Fitnah, soalnya banyak orang sering berkeliaran
ke sana bawa karung dan tidak tau apa isinya. Kalau boleh saran disana memang
harus dipasang kamera CCTV biar tau siapa yang membuang bangkai tersebut,”
tutupnya.(red)

Rekomendasi

Ruangan komen telah ditutup.