Kecewa, Warga Dua Kabupaten Tutup Saluran Pembuangan Limbah Tambak PT Bumi Subur Dengan Batu

Jember- Ratusan Warga Nelayan serta Petani Desa Wotgalih Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang dan Desa Paseban Kecamatan Kencong Kabupaten Jember, mendatangi  lokasi tambak udang paname  PT Bumi Subur yang berada di Desa Wotgalih Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang, untuk menutup pintu saluran pembuangan limbah. Rabu, (11/11). 

Maksud dan tujuanya, mereka menuntut pihak PT Bumi Subur untuk membuat saluran Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAl) yang layak standar.Atas kondisi ini menyebabkan air sungai dan laut menjadi tercemar oleh limbah tambak.

Menurut mereka, dampaknya nelayan banyak merugi.Hasil tangkapan  ikan menurun drastis sejak limbah dibuang secara sembarangan.Akibatnya ikan-ikan di laut yang biasanya menepi ke pinggir laut untuk mencari makan, kini jarang terlihat karena menjauh. 

Selain kecewa warga nelayan, warga petani juga kecewa dan menuntut kepada perusahaan tambak udang yang berdiri sejak 30 tahun lalu, agar sungai yang berada di sekitar lokasi tambak di lakukan normalisasi atau pelebaran sungai. 

Menurut petani, jika musim penghujan datang sungai tidak mampu lagi menampung air  kemudian meluap menggenangi areal pertanian yang luasnya ribuan hektar.Akibatnya tidak jarang petani mengalami gagal panen karena tanamannya diserang banjir. 

Salah satu nelayan asal desa paseban Mad Cheleng mengatakan, sengaja pihak petani dan nelayan menutup pintu saluran pembuangan limbah dengan menutupi bebatuan sebagai bentuk protes dan ungkapan kecewa. 

Mat juga memberikan sinyal peringatan keras kepada pihak PT Bumi Subur jika hal ini dibiarkan pihaknya akan membawa massa lebih banyak dari hari ini.

Sementara Ali Ridho dari pihak petani asal desa Wotgalih mewakili masyarakat terdampak mengeluh akibat penyempitan sungai oleh pihak perusahaan yang sebelumnya sudah berkali-kali memperjuangkan hak-hak petani. 

Menurut Ali, ada 4 Desa yang areal pertanianya terdampak akibat penyempitan sungai, yaitu Desa Darungan, Jatimulyo, Wotgalih dan paseban. 

“Tuntutan melebarkan sungai yang sudah disempitkan. Kedua agar perusahaan membuang limbah dengan standar ipal yang ada. Ipal yang ada ini rupanya tidak standar,” kata Ali. 

Manager perusahaan Tambak Udang PT Bumi Subur dikonfirmasi awak media, mengaku tidak kaget dengan aksi nelayan dan petani kali ini, karena aksi-aksi yang sama sebelumnya bertahun-bertahun sering terjadi. 

“Kita ikuti termasuk permintaan pelebaran jalan.Terkait IPAL saya belum bisa pastikan.Masalah IPAL sudah saya serahkan ke Konsultan IPAL  tingkat  Provinsi agar menangani masalah ini.Karena sudah kita bayar 300 juta.Sekarang prosesnya sudah 50 persen berjalan, ” ujar Azmin. (Tahrir)

 

Rekomendasi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.