Kakanim Jember Jenguk Sulastri, Buruh Tani Rawat 5 Yatim-Piatu Kini Terbaring Sakit

Jember- Kepala kantor imigrasi (Kakanim) kelas II TPI Jember Said Noviansyah di dampingi istri Yani Said Noviansyah, menyalurkan bantuan berupa paket sembako dan uang tunai kepada ibu Sulastri (50), seorang buruh tani yang mengasuh dan merawat 5 anak yatim piatu. Rabu, (20/01/21). 

Sulastri yang beralamat di dusun Jatiagung Desa Gumukmas Kecamatan Gumukmas, sudah 2 bulan lebih terbaring lemah di tempat tidur karena keluhan sakit pada lambung dan liver.

Said dan istri datang bersama rombongan ibu-ibu Dharma Wanita dan beberapa pejabat di lingkungan Kantor Imigrasi Jember.Usai menyerahkan bantuan, Said menjelaskan, kedatanganya untuk bakti sosial dalam rangka Hari Bhakti Imigrasi ke-71.

“Bakti sosial ke seluruh masyarakat dalam rangka mendukung kesejahteraan masyarakat semuanya, dalam era new normal banyak masyarakat yang terkena dampak COVID-1, ” terang Said.

Selain membantu ibu Sulastri, tuturnya, Imigrasi Jember juga menyalurkan bantuan yang sama kepada korban banjir di beberapa titik lokasi di Kabupaten Jember.Ia menjelaskan, salah satu program Imigrasi Kelas II TPI Jember adalah berbagi bersama masyarakat untuk kemajuan Indonesia.

Said juga menyampaikan rasa terima kepada teman insan media yang telah memberikan informasi, sehingga bisa menuju salah satu masyarakat yang membutuhkan langsung.

“Kita juga akan membantu masyarakat yang tertimpa musibah bencana alam, mungkin kami besok akan ke sana, ” katanya.

Diketahui Sulastri adalah Ibu angkat sekaligus yang mengasuh anak yatim piatu 5 bersaudara, sejak kedua orang tua mereka meninggal 2 tahun lalu.

Kelimanya yaitu, anak pertama bernama Fiki firmansyah lulus SD, anak kedua bernama Ananta randa maulana masih sekolah kelas 5 SD, ketiga Amelia Anda Rista kelas 4 SD ,berikutnya Novika Salsafira duduk di bangku kelas 1 SD dan satu lagi umur 3 tahun belum sekolah.

Anak yang pertama usai lulus SD lebih memilih bekerja di Surabaya sebagai buruh pabrik krupuk, ketimbang harus melanjutkan sekolah.

Hal ini lantaran demi untuk membantu Ibu angkatnya.Sebab Dia sadar ke 4 adik-adiknya yang kini di asuh oleh budenya juga membutuhkan biaya hidup sehari-sehari maupun biaya sekolah.

Kehidupan Sulastri bisa dikatakan serba kekurangan.Untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari saja, serta menopang biaya hidup 5 anak yatim piatu yang menjadi tanggunganya, Ia harus bekerja sebagai buruh tani, itupun jika ada yang menyuruh.

Apabila musim panen tiba, Sulastri pergi kesawah untuk memungut sisa hasil panen yang terbuang atau istilah masyarakat setempat menyebutnya “Ngasak”.

Sisa hasil panen tersebut Dia kumpulkan sedikit-demi sediki.Hasilnya Ia bawa pulang untuk menafkahi ke 5 anak yatim piatu yang Ia rawat sejak 2 tahun lalu.

Sedangkan suami Sulastri terpaksa harus pergi merantau ke Surabaya untuk bekerja, sebagai kuli bangunan dengan hasil yang pas-pasan pula.

Kini Sulastri sudah 2 bulan terbaring lemah di tempat tidur karena sakit-sakitan.Sulastri merasa bingung karena ada tanggung jawab mengasuh ke 5 Anak Yatim Piatu. Sedangkan Sulastri sendiri sudah tidak bisa bekerja lagi karena sakit Lambung dan Liver.

Ibu sulastri sebelumnya sudah di bawa ke Rumah sakit untuk perawatan, namun hasilnya nihil. Sulastri dan 4 anak yatim piatu saat ini harus bertumpu pada bantuan dari para Donatur, guna untuk biaya pengobatan dan kebutuhan makan sehari hari mereka. (Tahrir)

Rekomendasi

Ruangan komen telah ditutup.