Faktur Penjualan Kargo PNT ke Captain Ali Memicu Kecurigaan

Nusantaraterkini.com (Surabaya) – Perseteruan perusahaan pelayaran nasional PT Persada Nusantara Timur (PNT) dengan Abdul Munif, salah satu pelanggannya belum berakhir. Penyebab konflik berawal dari tenggelamnya kapal milik PNT yakni KM Senja Persada seusai bersenggolan dengan KM Ever Top di Selat Toro, Buton, Sulawesi Tenggara pada 16 September 2020 silam. Akibatnya kargo (muatan barang) milik salah satu pelanggan PNT, Abdul Munif yang mengirim beras 50 ton ke Kaimana menggunakan KM Persada Nusantara dikabarkan ikut tenggelam dan sampai sekarang belum ada kejelasan ganti rugi beras miliknya yang bernilai Rp 575 juta. 

Bob Narua yang dipercaya sebagai kuasa barang sekaligus mengurus pengiriman beras 50 ton milik Abdul Munif dari Surabaya tujuan Kaimana, Jumat (19/2/2021), buka suara mengenai dugaan kejanggalan dokumen, diantaranya terbitnya faktur penjualan PNT ke Capt (maksudnya Captain) Ali tanggal 29 Agustus 2020. Faktur penjualan ini menurut Bob, begitu biasa dipanggil, berisi keterangan PNT menjual barang kargo ke Ali sebesar Rp 46.300.000,-. Bob menjelaskan Ali tinggal di Kaimana dan merupakan pembeli beras 50 ton milik Abdul Munif. Ia menjelaskan sampai sekarang Abdul Munif belum menerima pembayaran beras 50 ton dari Ali, karena perjanjiannya akan dibayar Ali setelah beras sampai di Kaimana.

“Faktur penjualan tertulis kuantitas 50. Jangan-jangan telah terjadi jual beli dibawah tangan beras 50 ton milik Abdul Munif dari PNT ke Ali,” ungkap Bob.

Bos PNT, Freddy Thie melalui kuasa hukumnya, Pieter Talaway belum memberikan jawaban mengenai faktur penjualan PNT ke Ali. Dihubungi melalui sambungan selular, Selasa (23/2/20219), Pieter Talaway berjanji akan memberi kabar pada awak media ini untuk waktu wawancara. Sayangnya hingga berita ini diturunkan, Advokat kondang itu tidak kunjung menghubungi wartawan Nusantaraterkini.com.

Ali, Selasa (23/2/2012) angkat bicara mengenai terbitnya faktur penjualan tersebut. Dia menyebut faktur penjualan itu bukan merupakan jual beli beras antara PNT dengan dirinya, melainkan bukti pembayaran frak atau ongkos kirim pengiriman beras 50 ton milik Abdul Munif dari Surabaya tujuan Kaimana. Ali meminta Abdul Munif bersabar menunggu hasil keputusan Mahkamah Pelayaran (MP). Menurut pengalamannya sebagai nahkoda kapal, sengketa pelayaran kapal tenggelam memang membutuhkan waktu lama, karena melibatkan banyak pihak, diantaranya Polairud, Syahbandar, Basarnas, sampai TNI AL.

“Jika nanti hasil MP menyatakan PNT kalah dan harus membayar ganti rugi kepada pelanggannya sesuai nilai barang muatannya, saya yakin bapak Freddy Thie pasti akan memberi ganti rugi. Apalagi sekarang bapak Freddy Thie menjabat Bupati Kaimana, jadi tidak mungkin beliau mempertaruhkan reputasi dan nama baiknya,” terangnya.

Ali meminta tolong untuk memberi tahu Abdul Munif supaya membangun komunikasi dengannya agar bisa menyelesaikan dengan nurani, sehingga semua persoalan berjalan secara baik. Ia juga berharap Abdul Munif dan Bob Narua tidak menyerang pribadi Freddy Thie melalui media.

Keterangan Ali berbeda dengan ucapan Abdul Munif. Pasalnya, pengusaha beras ini telah membayar 75 % ongkos kirim kepada bos PNT, Freddy Thie sejumlah Rp 34.725.000,- melalui transfer antar bank tanggal 31 Agustus 2020.

Sebelumnya Satreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak juga sudah melakukan penyelidikan dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan beras 50 ton milik Abdul Munif. Namun penyelidikan ditunda setelah Satreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak memutuskan menunggu hasil Mahkamah Pelayaran. (Fajar Yudha Wardhana)

Rekomendasi

Ruangan komen telah ditutup.