Terbit : 28 Agustus, 2019 - Jam : 15:22

Elpiji Tiga Kilogram Langka di Aceh Tamiang

Loading...

ACEH TAMIANG – Sudah tiga minggu terakhir ini di kabupaten Aceh Tamiang, provinsi Aceh terjadi kelangkaan gas elpiji volume tiga kilogram. Penyebab kelangkaan elpiji bersubsidi tersebut hingga kini belum diketahui.

Hal itu berdampak kepada pengecer dengan menaikan harga sesuka hatinya, padahal berdasarkan peraturan pemerintah sudah ditetapkan per tabung elpiji volume tiga kilogram di label Rp.18 ribu rupiah.

Harga jual gas elpiji volume tiga kilogram di tingkat pengecer mencapai Rp.25 ribu rupiah hingga Rp.30 ribu rupiah, per tabungnya. Hasil penelusuran nusantaraterkini.com, melonjaknya harga jual tersebut, disebabkan para pengecer tidak mendapat jatah dari pangkalan distributor karena pasokan dari dan ke pangkalan kosong.

Sejumlah masyarakat di Kecamatan Karang Baru yang ditemui mengaku kelangkaan gas elpiji volume tiga kilogram tersebut. Dimana walau mereka sudah memesan gas dari agen keliling, namun hingga beberapa hari kemudian belum juga ada karena persediaan gas elpiji kosong.

“Sudah seminggu ini kami kesulitan mencari gas. Kedai terdekat kosong, pesan sama agen pengecer juga tidak tahu kapan gas akan masuk”, kata Faridah (62) warga Desa Bundar, Kecamatan Karang Baru, Rabu (28/8/2019) pagi tadi.

Hal senada juga dikeluhkan, Erni warga desa yang sama. Dua tabung gas miliknya sudah habis sejak hari Rabu Minggu lalu, namun dia belum bisa mendapatkan gas 3 kg hingga sekarang.

Erni sudah berulang kali pesan dengan penjual gas eceran dan berburu gas di seputaran wilayah Karang Baru tapi stok gas di kios-kios sedang juga kosong.

“Kami terpaksa mencari informasi sampai ke kecamatan Manyak Payed. Disana gas juga langka, kalau pun ada harganya tinggi Rp.25 ribu rupiah per tabung”, katanya.

Warga Kecamatan Manyak Payed, Hery (39) yang dijumpai, mengatakan, kelangkaan elpiji 3 kilogram terjadi hampir satu minggu terakhir baik di tingkat pedagang eceran hingga pangkalan.

Kelangkaan tersebut juga memicu naiknya harga gas melebihi HET (harga eceran tertinggi). “Harga di pangkalan masih normal Rp.18 ribu rupiah per tabung, tapi harga di kios eceran ada yang mencapai Rp.23 ribu rupiah hingga Rp.30 ribu rupiah per tabung”, ungkapnya.

Menurut Hery, meski gas dari Depot Pertamina sudah masuk ke salah satu pangkalan di Manyak Payed, namun dalam waktu singkat sudah habis diserbu agen dan masyarakat. Di sisi lain, sebagian masyarakat lebih memilih beli gas di kios eceran karena di pangkalan terjadi antrian panjang.

“Biasanya harga di pangkalan dan eceran hanya beda tipis, tapi hari ini harganya sudah beda jauh diatas Rp.5 ribu rupiah per tabung, itu jelas memberatkan masyarakat kurang mampu”, katanya sambil menyebutkan, anehnya gas yang baru masuk langsung habis di pangkalan.

Mukadi, seorang pedagang warung nasi dan gorengan di kawasan Kampung Banjir, Karang Baru juga mengaku kesulitan mencari gas ukuran 3 kg. Sangking sulitnya mendapat gas pihaknya nyaris gagal berjualan. “Iya gas 3 kilo langka kali, sempat terlambat masak hari ini dan hampir tidak jualan”. tuturnya.

Hasil penelusuran tadi malam ke sejumlah penjual gas eceran di jalan lintas Medan-Banda Aceh di Kecamatan Karang Baru ditemui, di setiap kios hanya ditemukan tumpukan tabung gas yang kosong. Mereka juga sedang menunggu pasokan gas dari pangkalan setempat.

Sejumlah pelanggan yang datang ke kios pengecer terpaksa balik arah dengan tangan hampa. Namun demikian untuk gas non subsidi ukuran 12 kg masih tersedia tidak ikut langka. “Sudah beberapa hari kosong barang bang, kami juga tidak tahu masuknya kapan”, ucap penjual gas eceran di Simpang Tiga Desa Tanjung Karang.

Para penjual gas eceran mengaku tidak mempersoalkan jika harga gas LPG 3 kg naik, asalkan barangnya tidak langka. “Kita tidak masalah harga naik yang penting barangnya ada, jadi konsumen tidak kecewa”.

Salah seorang pemilik pangkalan gas 3 kg di Desa Terban, Karang Baru, Abdul Halil menjelaskan, sejauh ini pengiriman gas dari keagenan ke pangkalannya masih lancar, namun ada pengurangan kuota dari 1500 menjadi 1200/bulan.

Mungkin hal itu menjadi penyebab kelangkaan elpiji 3 kg. “Kuota saya dikurangi sampai 300 tabung, dalam dua hari sekali gas masuk tapi tidak tentu, kadang 50, 70, tadi ada masuk 100 tabung, tapi sudah habis”, katanya.

Menurutnya tidak ada kendala dari Pertamina tapi pemerintah memang akan mengurangi gas bersubsidi karena dinilai tidak tepat sasaran yang justru menikmati orang kaya seperti para PNS banyak pakai gas 3 kg. “Info yang saya dengar, subsidinya akan di alihkan ke gas ukuran 5 kg dan 12 kg”, terang Halil.

Sejumlah ibu-ibu terpantau sedang berkumpul di pangkalan gas Halil untuk mengambil jatah gas yang sudah dipesan seharga Rp.18 ribu rupiah per tabung. Para pelanggan dari segala penjuru desa tampak berdatangan membeli gas yang dibatasi hanya satu tabung bagi warga dan 3-5 tabung untuk penjual eceran.

“Setiap pembelian dibatasi dan dilaporkan ke agenan”, ujarnya dengan menambahkan, kalau kuota dikurangi jelas tidak cukup, karena dalam satu kampung saja ada 700 KK. Pangkalan ini melayani sejumlah desa di Kecamatan Karang Baru diantaranya, Desa Air Tenang, Terban, Kampung Dalam hingga Desa Medang Ara. (Syawaluddin)

Loading...
Rekomendasi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.