Dua Bos Perusahaan Otak Penyelundupan Kayu Merbau Diduga Ilegal Ditangkap

Nusantaraterkini.com (Surabaya) – Penyidik Balai Gakkum (Penegakan Hukum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabalnusra) menangkap WD (49) pimpinan KSU Cendrawasih yang beralamat di Jalan Rajabala, Kelurahan Siwalima, Kabupaten Kepulauan Aru dan JH (38) pimpinan CV Muara Tanjung, berlokasi di Jalan Djalabil, Desa Siwalima, Kabupaten Kepulauan Aru, karena diduga memiliki kayu ilegal. 

Kasus ini berawal dari hasil pengaduan masyarakat terkait pengiriman kayu ilegal dari Kepulauan Aru ke Surabaya melalui pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menggunakan Kapal Motor (KM) Darlin Isabel dan KM Asia Ship. Dari hasil pemeriksaan saksi dan ahli, penyidik Gakkum memiliki bukti kuat yang menunjukkan kedua perusahaan tersebut memiliki kayu ilegal dan menyalahgunakan dokumen Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan Kayu Olahan (SKSHHKO).

“Saat penyidik ke lokasi izin tebangan di Kepulauan Aru, pemilik tidak mampu memperlihatkan tonggak hasil tebangan di lokasi izinnya. Sewaktu petugas memeriksa kayu, fisik kayu tidak sesuai dengan dokumen SKSHHKO,” tulis Balai Gakkum KLHK Jabalnusra, melalui siaran pers, Minggu (21/3/2021).

Barang bukti yang disita yaitu 4.832 batang (77,3086 m3) dan 4.483 batang (134,7062 m3) kayu merbau dan dokumen SKSHHKO kedua perusahaan itu.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dua bos kayu tersebut di Ambon, Kamis (18/3/2021), penyidik Balai Gakkum Jabalnusra menerbitkan surat penangkapan, kemudian membawa kedua pelaku ke Surabaya. Kedua tersangka itu dititipkan di Rutan Polda Jawa Timur untuk diminta keterangan lebih lanjut.

WD dan JH dikenakan Pasal 88 Ayat 1 Huruf c Jo Pasal 15 Undang-Undang No 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dengan ancaman hukuman penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 2,5 miliar. (Fajar Yudha Wardhana)

Rekomendasi

Ruangan komen telah ditutup.