Wartawan Nusantaraterkini.com Terdaftar di Box Redaksi, Untuk Bergabung menjadi wartawan seluruh indonesia Hubungi : +62 822-8273-3432

Demokrasi Rakyat Di Sudut Sempit.

Loading...

politikProses Demokrasi silih berganti, Pemilihan Legislatif, Pilbup, Pilgub memenuhi ruang waktu kita tak henti. Hanya Berkelang bulan datang dan kembali menjual semacam halusinasi kedaulatan rakyat secara utuh. Padahal sejatinya tak lebih sebagai obat penenang belaka, tak menyembuhkan penyakit.

Rakyat semakin tersungkur di lumpur nista peradaban Barbar dalam panggung perebutan kekuasaan. Rakyat semakin terdampar di padang gersang, kehausan dan kelaparan dalam pesta pora perebutan suara.

Sejatinya Demokrasi adalah tiket emas bagi rakyat untuk merebut tampuk kekuasaan dari tangan para ‘raja’, ‘bangsawan’, pemilik modal dan hantu-hantu sistem kelas lainnya. Demokrasi baru bisa dikatakan berhasil bila mampu mengangkat anak seorang babu menjadi juragan bagi kaumnya.

Bila Pilkada yang selama ini kita laksanakan, kita jadikan alat uji eksistensi demokrasi rakyat, maka dapat dipastikan demokrasi gagal uji alias tidak lulus. Namun apa hendak dinyanah kita harus tetap bangkit, menyulam dan menambal seluruh robekan-robekan tenunan demokrasi yang ingin kita pakai.

Hadangan demokrasi rakyat begitu variatif dan banyak. Para feodal keturunan ini dan itu. Memaksa dan memangsa hak demokrasi rakyat dengan label bahwa mereka adalah keturunan raja ini dan pangeran itu.

Sebagaian besar Manusia-manusia yang mengaku terhormat itu. Memproklamirkan diri sebagai tokoh masyarakat, hanya karena mereka adalah Anggota Dewan, mantan Pejabat. Padahal bila mau jujur, mereka terpilih karena berhasil menipu rakyat melalui selembar rupiah.

Sahabat, Pilkada transaksional sejatinya adalah feodalisme dan kapitalisme bertopeng demokrasi.

Sementara tugas progresif pergerakan adalah mencari pemimpin revolusioner, humanis dan bukan maling di daerahnya masing-masing. Semuanya berpulang kepada diri kita masing-masing sebagai rakyat. Masihkah kita sudih diperlakukan sebagai topeng monyet yang diarak dengan hinggar binggar musik, lalu dipaksa secara sadar memilih mereka ?, masihkah kita mau dijadikan pemandu sorak, tukang tepuk tangan dengan imbalan selembar baju tipis, sementara mereka menguasai panggung yang seharusnya milik kita.

Pilkada akan selalu memanggil kita, seluruh rakyat ‘menyambut gembira atau dipaksa gembira’ dibawah undang-undang warisan Belanda dan penyelenggara Pilkada bermental seadanya.

“Maju Terus Menuju Kemenangan”

Rekomendasi

Ruangan komen telah ditutup.