BMKG : Air Surut Di Jayapura Murni Karena Fase Bulan Baru


NusantaraTerkini.Com, Papua –
Surutnya air laut di wilayah pesisir pantai Jayapura sempat membuat warga khawatir.

Mengenai hal ini BMKG Wilayah V Jayapura telah melakukan konfirmasi dan upaya agar warga tak panik dan termakan isu hoax.

Kepala BMKG Wilayah V Jayapura Petrus Demonsilii kepada wartawan menegaskan bahwa surutnya air laut pada 5 Januari lalu dipastikan karena fase bulan baru.

“Tsunami dipicu oleh gempa bumi tektonik, yang ke dua runtuhan bawa laut, termasuk meteor jatuh juga bisa picu tsunami. Nah yang kemarin terjadi itu warga kan banyak yang perkirakan akan ada tsunami karena Pantai Hamadi air lautnya surut sangat jauh,
yang mau saya sampaikan pada 5 Januari kita memasuki bulan baru dan yang ke dua bulan purnama,” ujar Petrus di Kantor BMKG Wilayah V Jayapura, Senin (7/1/2019) siang.

Ia kembali menegaskan pada 5 Januari 2019 posisi bulan dengan bumi relatif sangat dekat, artinya gravitasi bulan terhadap bumi itu cukup besar, “kalau cukup besar maka air laut akan pasang dan bagian laut lain akan surut. Kejadian ini seperti yang kita saksikan beberapa waktu lalu,” tambah Petrus.

Ia juga menegaskan kejadian surutnya air laut tersebut tak berlangsung lama dan sudah kembali normal.

“Kejadian ini kan tidak berlangsung lama artinya 1 hari itu saja, kemudian besok dan seterusnya posisi bulan akan normal,” ujarnya lagi.

Ia juga membantah isu akan adanya tsunami yang melanda Jayapura dan sekitarnya.

BACA JUGA :

Ini Konfirmasi Lengkap BMKG Soal Pasang Surut Air Laut Dan Isu Tsunami Di Jayapura

“Jadi isu tsunami itu hoax karena pada 4 Januari ada gempa bumi tektonik dengan kekuatan 4,2 SR dirasakan juga di Jayapura. Artinya ini tidak punya energi yang besar untuk memindahkan volume air yang besar dari lautan lepas menuju daratan, tidak mungkin karena tsunami bisa terjadi jika gempa di atas 7 SR,” tegasnya.

Selanjutnya pada 6 Januari ada gempa di Yapen yang dipicu oleh sesar Yapen, secarah ilmiah di sana ada sesar (patahan) mendatar
Artinya tak mungkin menimbulkan tsunami kecuali seperti yang terjadi di Palu, ada runtuhan bawah laut.

“BMKG memastikan dua kejadian ini tidak cukup untuk memicu tsunami tapi yang saya sampaikan tadi karena memasiki fase bulan baru,” tandasnya.

Jadi masyarakat diminta tetap tenang, karena 2 kali gempa bumi tektonik ini tidak memicu tsunami.

Ia juga meminta warga tak menyamakan tsunami Selat Sunda dengan adanya kejadian di Jayapura. (Isal N / Redaksi)

Rekomendasi
Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.