Beli Tembakau di Bawah Harga Kontrak, Ratusan Petani Jember Datangi PT Mayangsari

Jember- Ratusan petani tembakau jenis Na Ost asal Jember selatan, mendatangi kantor  perusahaan tembakau PT Mayang Sari Mayang, karena membeli tembakau dibawah harga kontrak.Kamis, (17/12). 

Mereka didampingi pengurus Apti Jember, menuntut pihak PT Mayang Sari membeli tembakau sesuai kontrak perjanjian Pembelian, yakni 70  juta rupiah per hektar.

Kedatangan ratusan petani tembakau ke perusahaan tersebut dengan mengendarai mobil dan Bus membuat jalan protokol yang melewati Gudang tersebut ditutup total.Sementara arus kendaraan  dari arah Banyuwangi-jember dialihkan lewat pasar Mayang.

Menurut ketua asosiasi petani tembakau Apti Jember, Suwarno, sebelum dilakukan tanam tembakau, PT Mayang Sari membangun kemitraan dengan petani tembakau Na Ost.

“Harga kontrak kerjasama pembelian tembakau, seharga 70 juta rupiah per hektar, dengan produk 1,5 ton atau kisaran harga sekitar 4,5 juta rupiah perkwintalnya, ” ujarnya.

Namun saat masa panen, terang Suwarno, PT Mayang Sari membeli tembakau dengan harga jauh dibawah kontrak antara 2 juta hingga 3 juta rupiah perkwintalnya.Sehingga petani hanya menerima harga pembelian sekitar 30 juta rupiah saja.

Padahal biaya produksi mencapai 70 juta rupiah per hektar nya.Akibatnya para  petani tembakau rugi rata-rata  sekitar 40 juta rupiah per hektarnya.

“Karena itu kami meminta pihak perusahaan membeli sesuai harga kesepakatan atau setidak-tidaknya petani tidak rugi, ” pinta Suwarno.

Hal senada disampaikan seorang petani lainnya,H Holil, warga Rambipuji.Dia menjelaskan, harga pembelian tembakau tidak sesuai dengan harapan. Tembakaunya dibeli dengan harga 2 juta rupiah dan maksimal 3 juta rupiah jika tembakau nya bagus.

“Dengan harga tersebut petani tidak bisa menutupi biaya operasional.Bahkan hingga saat ini petani belum bisa membayar upah buruh, antara 200 ribu hingga 500 ribu rupiah per buruh yang jumlahnya mencapai 20 orang, ” kata H.Holil.

Salah seorang petugas PT Mayang Sari, Swada menjelaskan, terkait tuntutan para petani masih akan dibicarakan dengan pihak manegemen yang saat ini berada di luar negeri.

“Kemungkinan hasil pembahasan tuntutan petani tersebut akan disampaikan 31 Januari 2021 mendatang, karena masih menunggu hasil perhitungan harga oleh management perusahaan, ” imbuhnya. (Tahrir)    

Rekomendasi
Loading...

Ruangan komen telah ditutup.