Wartawan Nusantaraterkini.com Terdaftar di Box Redaksi, Untuk Bergabung menjadi wartawan seluruh indonesia Hubungi : +62 822-8273-3432

Bedah Buku Khidmah Keummatan, Ulas Kiprah KH Syafawi Tokoh Lokal Miliki Peran Penting Membangun Bangsa

Jember- Pengurus Cabang (PC) Nahdlatul Ulama (NU) Kencong mengadakan bedah buku Khidmah Keummatan. Buku ini mengulas tentang kiprah KH Syafawi Ahmad Basyir, tokoh penggerak Nahdlatul Ulama Jember selatan, sekaligus pendiri Pondok Pesantren Mabdaul Ma’arif (Madaf) di Kecamatan Jombang. Acara itu berlangsung di aula PCNU Kencong, Jumat (13/11/2020).

Acara ini dilaksanakan oleh beberapa lembaga dan Badan Otonom (Banom) di bawah naungan PCNU Kencong. Di antaranya Lembaga Taklif Wanasr (LTN), Lembaga Perguruan Tinggi (LPT), Lembaga Wakaf dan Pertanahan (LWP), Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manuasia (Lakpesdam), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Gerakan Pemuda Ansor. Bedah buku tersebut juga bekerjasama dengan Taman Baca Budaya (TBB) Salam Kencong.

Sang penulis buku, Rijal Mumazziq Z, yang juga Ketua PC LPT NU Kencong, hadir langsung untuk menyampaikan pokok pembahasan dalam buku itu. Dua orang pembanding dihadirkan untuk mengulas lebih dalam. Mereka adalah Abdur Rohim, pegiat sejarah sekaligus Ketua PC LWP NU Kencong dan Y Setio Hadi, pegiat sejarah yang juga Direktur TBB Salam. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai lembaga dan Banom NU, pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum.

Wakil Ketua PCNU Kencong Tantowi Jauhari mengatakan, dasar pemikiran diadakanya bedah buku ini adalah karena masih banyak masyarakat, khususnya generasi muda yang belum mengenal kiprah tokoh NU, seperti halnya Kia Syafawi. Karena menurutnya, mengenal tokoh adalah salah satu langkah untuk menghargai perjuangan dan meningkatkan kecintaan terhadap bangsa dan negara.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya, menghargai para ulamanya. Kalau Bung Karno memiliki jargon Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah, maka orang NU memiliki jargon Jas Hijau alias jangan sekali-kali menghilangkan jasa ulama,” katanya, saat membuka acara.

Pria yang akrab disapa Gus Towi ini menyampaikan, acara tersebut adalah langkah awal dari rangkaian acara bedah buku berikutnya. Karena saat ini, tim penulis sedang menyusun buku lain. Di antaraya, sejarah Gerakan Pemuda Ansor dan sejarah PCNU Kencong.

Sementara itu, Ketua PCNU Kencong Kiai Zainil Ghulam memaparkan tentang kiprah KH Syafawi Ahmad Basyir semasa hidupnya. Dia mengisahkan tentang cara KH Syafawi menutup tempat maksiat yang meresahkan warga Jombang, setelah mendapatkan laporan dari salah satu jamaahnya. KH Syafawi menolak cara-cara kekerasan, melainkan dengan tirakat dan doa agar pelakunya bertobat dan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.

“Tidak ada sejarahnya kiai NU langsung main sikat pada kemaksiatan. Salah satu pendekatanya adalah meminta kepada Allah SWT agar pelakunya bertaubat dan mendapatkan rezeki yang halalan toyyiban,” kata Gus Ghulam, sapaannya, ketika menyampaikan sambutan. Apa yang dilakukan KH Syafawi, dia menambahkan, merupakan ciri khas dakwah NU yang lebih mengedepankan sisi spiritualitas dan humanisme. Bukan dengan cara-cara kekerasan. “Ini yang harus diketahui oleh generasi muda sekarang,” imbuhnya.

Sang penulis buku Rijal Mumazziq, mempunyai alasan sendiri menggali dan menulis sejarah tentang sang kakek, KH Syafawi. Motivasi pertama adalah agar dia dan keluarga tidak kehilangan cerita utama tentang ketokohan dan petuah-petuah kakeknya. Dan kedua ingin meramaikan konteks historiografi lokal.

Tokoh muda yang kini menjabat Rektor Inaifas Kencong itu menyampaikan, ada fenomena menarik tentang sejarah di Indonesia dalam kurun waktu dua puluh tahun terahir, tepatnya setelah reformasi. Yakni bangkitnya generasi muda NU untuk menulis sejarah tokoh lokal. Dibanding masa orde baru, sejarah lebih cenderung sentralistik dan mengisahkan tentang tokoh-tokoh besar saja, sementara tokoh lokal jarang disentuh.

“Padahal kontribusi para ulama baik yang mencapai level nasional maupun kiai kampung, atau pendiri pondok pesantren, sama-sama memainkan kontribusi yang besar dalam konteks sejarah yang ada di Indonesia,” ungkapnya. (Tahrir)

Rekomendasi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.