Wartawan Nusantaraterkini.com Terdaftar di Box Redaksi, Untuk Bergabung menjadi wartawan seluruh indonesia Hubungi : +62 822-8273-3432

Bantuan PKH Disunat, Pendamping PKH Farikhah Berdalih, Itu Uang Kas

Loading...

Jember- Penyaluran bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH), temuan dilapangan banyak berbagai dugaan praktik penyimpangan yang merugikan Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Minggu, (12/7).

Praktik seperti ini, diduga dilakukan oknum nakal petugas PKH sendiri, seperti pemotongan uang PKH berdalih iuran, Kartu ATM tidak di simpan sendiri oleh KPM hingga ditemukan KPM menerima bantuan pangan sembako berbentuk paketan tidak belanja di e-Warong, melainkan langsung dirumah ketua kelompok serta pengadaan baju seragam warga KPM yang harganya tidak wajar.

Karyadi salah satu KPM penerima bantuan tunai asal Padukuhan Grintingan Dusun Kepel Desa Lojejer Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember kepada nusantaraterkini.com mengaku, selama ini ia dan 20 KPM lainya tidak menyimpan sendiri kartu ATM.Setiap pencairan hanya ditunjukkan saja kartu ATM miliknya, setelah itu diambil lagi oleh ketua kelompok.

Bahkan saat pengambilan uang tunai di Bank juga tidak ikut mengambil, melainkan dicairkan sendiri oleh ketua kelompok bernama Nita yang didampingi pendamping PKH bernama Farikhah.

“Alasannya dia biar mudah mengambilnya, nanti jika diambil sendiri-sendiri karena orang banyak nanti kurang cepat, ” ujar Karyadi dengan logat bahasa Jawa.

Karyadi menambahkan, hanya awal-awal saja Ia dan PKM lainnya memegang dan menyimpan sendiri kartu tersebut, namun sudah 5 kali lebih pencairan uang tidak pernah mengambil sendiri dan menyimpan kartu lagi.

Setiap pencairan itu, sambung Karyadi, ATM dan pin memang ditunjukkan kemudian dibawa lagi.Setelah dia diberi uang, kemudian kartu yang seharusnya dia simpan sendiri nyatanya ditarik kembali oleh Nita.

Karyadi juga mengaku, ada potongan 25 hingga 30 ribu rupiah setiap pencairan kepada KPM, saat uang sudah diambil oleh petugas tersebut kemudian diantar kepada masing-masing KPM.Katanya, petugas berdalih pemotongan ini untuk iuran kas kelompok.Ulah oknum petugas PKH nakal tersebut, karyadi menyebut, telah di lakukan sebanyak 6 hingga 7 kali.

“Potongan sewaktu pencairan 25 sekaligus untuk uang kas perorang sejumlah 20 orang, ” terang Karyadi.

Permasalahan seputar PKH tidak berhenti disitu saja, saat menerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Karyadi dan PKM lainnya tidak berbelanja langsung ke agen atau e-Warong yang telah ditunjuk, tetapi mengambil kerumah ketua kelompok PKH yang bernama Nita, sudah dikemas dalam bentuk sebuah paketan sembako.

Kejadian seperti ini rupanya juga dialami oleh PKM penerima BPNT lainnya di Desa Tamansari kecamatan yang sama. Seorang ibu yang tercatat sebagai PKM warga Desa Tamansari, yang enggan disebut namanya karena alasan takut namanya di coret sebagai PKM menuturkan, sewaktu saat pengambilan sembako, dia hanya dikasih tahu oleh ketua kelompok bernama Saroh, jika disuruh mengambil dirumah yang bersangkutan dengan jumlah nominal belanja dan rincian yang tidak dia ketahui.

“Pokoknya saya diperintah suruh ngambil berangkat gitu aja, betul saya tidak tahu sama sekali, harga berapa saya tidak tahu, saya tidak pernah notal pokoknya dapat ya sudah, ” tandanya.

Sementara ketua kelompok PKH Nita saat dikonfirmasi membenarkan adanya penarikan uang ke sejumlah 20 PKM dengan alasan untuk uang bensin.

” Iya, pokoknya gini lho pak, selain uang bensin untuk uang kas kelompok, ” kata Nita dengan logat Jawa campuran.

Nita juga mengaku yang mengambil uang bantuan sosial PKH milik sejumlah KPM dibank dirinya dan ikut serta pendamping PKH Farikhah.

Terkait penyaluran BPNT, Nita juga membenarkan sejumlah KPM mengambil sendiri sembako berbentuk paketan dirumahnya bukan di e-Warong.Namun saat dikonfirmasi terkait Kartu ATM tidak serahkan kepada sejumlah warga KPM dia mengelak.

“Jika seputar PKH tanya bu farikhah saja, saya tidak enak nanti dikira ada apa-apa, ” kata Nita.

Pendamping PKH Kecamatan Wuluhan Farikhah mengaku, mengetahui adanya penarikan uang tersebut ke sejumlah PKM.Dia berdalih uang tersebut adalah uang kas untuk kebutuhan kelompok.

“Itu kebutuhan kelompok ketika ada yang sakit, terus nanti foto kopi KK, jadi itu kembali di buat kelompok itu. Takziah kematian, Kadang-kadang kan ada yang sakit kecelakaan kayak gitu, ” ujar Farikhah.

Menurut Farikhah, pendamping PKH itu hanya mengawasi, jika saat pengambilan uang milik PKM oleh petugas PKH itu hanya titip saja.Farikhah juga mengaku mengetahui terkait penarikan sejumlah uang ke beberapa PKM dan pencairan uang di bank oleh ketua kelompok.

“Tapi kan dibuat kebutuhan lagi kembali ke kelompoknya, ” kata Farikhah terkesan melindungi ketua kelompok.

Terkait pengadaan baju seragam untuk warga PKM, Farikhah menjelaskan, itu merupakan kesepakatan dari kelompok PKH dan harganya Ia mengaku lupa.

Seakan terkesan melindungi anak buahnya, Farikhah menegaskan jika yang dilakukan ketua kelompok kepada warga PKM dirinya mengetahui semua dan praktik tersebut menurut Farikhah tidak menyimpang dari aturan yang ada.(tahrir)

Rekomendasi

Ruangan komen telah ditutup.