Agar Pariwisata Tetap Berjalan di Tengah Pandemi, Pengelola Wisata Harus Kreatif Dan Inovatif

Jember- Akibat pandemi berkepanjangan ini, tidak hanya berdampak terhadap kesehatan dan perekonomian masyarakat, tetapi sejumlah tempat wisata juga mengalami kelesuan, pasalnya Destinasi wisata tersebut tergantung dari kondisi suasana.Jumat, (27/11). 

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Pemkab Jember Arif Cahyono bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember tidak punya kewenangan melarang para pelaku wisata untuk membuka atau menutup usahanya, yang bisa dilakukan adalah melakukan pembinaan.

Pasalnya, saat ini, katana, Dinas Pariwisata, tidak punya kewenangan melakukan pelarangan apa lagi menekan pelaku wisata, yang  bisa dilakukan adalah menghimbau agar mereka membuat terobosan, domainnya sebatas melakukan pendataan dan pembinaan sekaligus membantu promosi.

“Mengenalkan tempat wisata ke masyarakat bahwa di wilayah sini ada tempat wisata. Itupun setelah kami mendapat tembusan surat izin, karena sekarang Dinas Pariwisata tidak lagi mempunyai kewenangan mengeluarkan Izin wisata, Perijinan di tangani dinas PTSP.” tandasnya

Diketahui, bahwa sejumlah tempat wisata di Kabupaten Jember yang terdata di Dinas Pariwisata yang Objek Daya Tarik Wisata (OTDW) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) berjumlah 80 dan memiliki 55 hotel dengan kapasitas Kamar berjumlah sekitar 2000.

Pengelola Pariwisata di kecamatan Ambulu, Suto Wijaya (50) mengakui bahwa sejak pandemi, pengunjung di Teluk Love sepi. Yang bisa dilakukan, katanya, bagaimana dirinya dapat tetap bertahan mengelola Teluk Love di masa Pandemi ini dengan berbagai upaya.

“Mulai dari melakukan pahaman kepada Mitra Kerjanya yang terlibat dalam pengelolaan, karyawan dan melakukan pengurangan karyawan di dua bulan terakhir, serta melakukan inovasi dengan menawarkan menu variatif, semua sudah kita lakukan.” Ujarnya

Untuk menekan penyebaran covid-19, diterapkan protokol kesehatan dan menyiapkan segala persyaratan yang himbaukan Satuan Tugas (Satgas) Covid 19 mulai dari tempat cuci tangan menyediakan hand sanitiser hingga mewajibkan pengunjung menggunakan masker.

“Itu semua kami lakukan agar kami tetap bisa bertahan, namun semua itu hasilnya tidak Signifikan pengaruhnya, karena tanpa dilarang pemerintah pun pengunjung takut untuk datang, memang masih ada pengunjung, tetapi jumlahnya sangat jauh dari yang diharapkan.” Ungkapnya. (Tahrir) .

Rekomendasi
Loading...

Ruangan komen telah ditutup.