Wartawan Nusantaraterkini.com Terdaftar di Box Redaksi, Untuk Bergabung menjadi wartawan seluruh indonesia Hubungi : 0822-8166-4736

Ada Kejanggalan, Warga Pertanyakan Pembangunan Jambur di Karo

Loading...

KARO – Merasa ada kejanggalan dalam penggunaan anggaran dana desa (ADD) tahun 2019 untuk pembangunan Jambur (Balai) desa, yang menghabiskan dana sebesar Rp. 500 juta.

Puluhan warga Dusun Ujung, Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Minggu (03/11/2019) beramai-ramai menyambangi Jambur yang sedang dalam tahap pengerjaan.

Mereka menilai, pembangunan Jambur itu terkesan asal jadi karena tidak memperhatikan dampak yang dapat mencelakai warga. Hampir 50 persen, material kayu untuk tiang atap memakai kayu yang sudah lapuk.

Bahkan, pemasangan atap kayu banyak sambungannya dan agak miring. Begitu juga dengan konstruksi bangunannya terlihat tidak rata dan sesuai.

“Yang kami takutkan, bila musim penghujan dan angin kencang, tiang penyangga atap bisa roboh dan menimpa warga saat pesta adat,” ujar Datang Karo-Karo (50) diamini warga lainnya.

Menurut warga yang diwawancara wartawan, pembangunan Jambur dilaksanakan secara swakelola desa yang anggarannya sebesar Rp. 567 juta. Namun kenyataannya tidak melibatkan warga desa, bahkan plang pekerjaan sebagai bukti transparansi pembangunan di desa tidak ada.

Hal ini juga yang menimbulkan kecurigaan warga kepada aparat pemerintahan desa. Dua bulan terakhir saat dimulai pengerjaan Jambur, warga sempat mengingatkan kepada pemborong agar jangan menggunakan kayu yang sudah lapuk.

“Sebenarnya, kita udah pernah protes. Tapi pelaksana Kepala desa yang bertugas di Kantor Camat Simpang Empat tidak menghiraukan. Memang kami masyarakat bodoh, tapi janganlah dibodoh-bodohi. Masa anggarannya setengah miliar, bangunannya seperti itu,” tukas warga.

“Kayunya banyak yang sudah lapuk dan ada sambungan. Kalau warga dilibatkan, tentunya bangunannya tidak asal jadi. Pasti kami buat bagus, ini orang luar yang kerjakan. Yah jelaslah, bangunannya asal jadi,” imbuh warga lagi.

Dikatakan warga, dari pengakuan pemborong, mereka hanya diberikan tugas untuk bekerja. Sementara untuk pembelian bahan material bangunan, dari Plt. Kades aparatur ASN Kantor Camat.

“Seorang pekerja bernama Tengku mengaku hanya dibayar Rp.100 juta untuk upah kerja. Sedangkan belanja bahan material pelaksana yang atur,” ujar Datang Karo-Karo mengutip ucapan pekerja bangunan.

Sementara, keluhan lain juga disampaikan Rukun Sembiring (40) yang merasa dirugikan atas pembangunan Jambur. Aliran air yang mengalir dari atap seng Jambur mengarah ke dinding rumahnya.

“Kalian tengoklah dinding sebelah rumahku. Air hujan dari seng Jambur jatuh tepat ke dinding, kalau terbuat dari batu bata tak masalah, ini terbuat dari papan. Kan bisa cepat rusak?,” imbuhnya kesal.

Padahal sambungnya lagi, dirinya sudah menanyakan hal tersebut kepada pemborong. Namun pemborong bilang, pembuatan talang air tidak masuk Rincian Anggaran Biaya (RAB).

“Kami berharap, keluhan warga perlu diperhatikan aparat pemerintahan. Jangan nanti sudah bermasalah, baru terbuka mata. Kita harapkan pembangunan Jambur jangan asal jadi. Harus sesuai spesifikasi,” ujar warga mengingatkan.

Warga desa juga menginginkan ada ketransparanan penggunaan anggaran. Bila sembunyi-sembunyi, patut dicurigai adanya permainan anggaran dalam pembangunan jambur ini. Dana yang mencapai setengah miliar tapi bangunannya terkesan asal jadi. (Anita)

Rekomendasi

Ruangan komen telah ditutup.